Cerita Rakyat Kucing Gering
Cerita Rakyat ini diceritakan orang tua pada anaknya pada saat hendak tidur pada zaman dahulu, sebelum kemajuan Teknologi sekarang ini.
Pada suatu hari dalam keluarga Kucing yang hidup dengan anaknya, salah satu anak dari kucing tersebut (kucing gering) selalu ingin lebih unggul dari kecung yang lain dilingkungannya. Suatu ketika Kucing itu berfikir untuk menjadi kestria yang sakti mandraguna.
Berhari hari iya berfikir untuk pergi mencari ilmu agar tujuannya tercapai. Si kucing gering terus mendalami perasaan yang diinginkanya itu, Pada suatu hari si Kucing gering bertekad untuk pergi mencari ilmu diluar sana, tetapi Ibu si Kucing gering itu melarangnya karena diluar sana masih banyak yang belum dia ketahui bagaimana jahatnya diluar sana.
Tanpa memperdulikan nasehat ibunya si Kucing gering pergi tanpa restu dari Ibunya tersebut.
Disuatu ketika ia berfikir untuk menjadi kestria digjaya, ia berfikir tidak mungkin langsung begitu saja menjadi kestria digjaya. Maka dia mencari guru yang pantas. Dia mencari siapa guru yang paling sakti untuknya supaya dia mendapatkan ilmu yang tinggi.
Dalam keadaan melamun dia melihat matahari yang menyinari alam semesta. Tanpa ragu lagi si Kucing gering langsung mayakini bahwa guru yang pantas untuk nya yaitu matahari.
Kucing gering berkata pada matahari, beberapa bulan si Kucing gering berguru di sang matahari, pada suatu ketika awan gelap berkumpul pelan pelan mendekati matahari yang kemudian menutupi matahari, karena ketebalan awan hitam tesebut cahaya matahari tidak bisa menembus untuk mrnyinari sebagian bumi, dan ketika malam matahari pun hilang sinar sebagian di bumi.
Maka si Kucing gering berfikir ilmu dari sang matahari dirasanya masih kurang tinggi dari ilmu awan gelap yang datang tiba tiba menutupi sunar matahari. Maka belajar lah si Kucing gering itu kepada sang awan, beberapa hari si Kucing gering pun termanung. Tiap kali di belajar di sang awan selalu terbawa mengikuti arah angin, klo angin dari timur dia terbawa ke barat begitu pun sebaliknya, si Kucing pun berfikir bahwa yang lebih sakti bukan lah awan tapi angin yang selalu mendorongnya kesana kemari.
Kacung gering kemudian belajar ilmu kedigjayaan pada angin, yang difikirnya lebih sakti dari pada awan. Beberapa hari kemudian dia belajar dia memperhatikan awan berhembus tapi tidak bisa menumbus kokohnya gunung yang menjulang tinggi. Kucing gering pun berfikir lagi, bahwa kesaktian awan tidak bisa menembus kokohnya gunung tinggi, maka kucing pun berpindah guru yaitu kepada sang gunung yang kokoh menjulang tinggi. Disaat dia belajar, pada suatu waktu dia berkeliling, ada bagian gunung yang banyak lubang dibawah menembus kemana mana. Kucing pun mulai lagi berfikir bahwa sekokoh kokohnya gunung masih banyak lubang menembus kemana mana, maka si Kucing gering pun mencari, siapa yang membuat lubang digunung yang kokoh nan menjulang tinggi, rupanya seekor tikus yang melubangi gunung kokoh tersebut. Jadilah Kucing gering belajar pada tikus tersebut.
Tak kala si Kucing gering belajar pada tikus, tikus berlari dengan tergesa gesa masuk ke lubang dikejar oleh Kucing. Yang mengejar tikus tersebut yaitu ibunya.
Yang kemudian si Kucing gering merasa heran, bingung, dan merasa bodoh dengan apa yang dia lakukan, si Kucing gering menghampiri Ibunya meminta maaf kepada Ibunya tersebut.
Ibu kucing Gering pun berkata : "sehebat hebatnya guru wahai anaku kucing gering, lebih hebat nan sakti mandraguna ialah ibumu ini, maka ingatlah nasehat dan berbaktilah kepada ibumu." ucap ibu kucing tersebut.
Pada suatu hari dalam keluarga Kucing yang hidup dengan anaknya, salah satu anak dari kucing tersebut (kucing gering) selalu ingin lebih unggul dari kecung yang lain dilingkungannya. Suatu ketika Kucing itu berfikir untuk menjadi kestria yang sakti mandraguna.
Berhari hari iya berfikir untuk pergi mencari ilmu agar tujuannya tercapai. Si kucing gering terus mendalami perasaan yang diinginkanya itu, Pada suatu hari si Kucing gering bertekad untuk pergi mencari ilmu diluar sana, tetapi Ibu si Kucing gering itu melarangnya karena diluar sana masih banyak yang belum dia ketahui bagaimana jahatnya diluar sana.
Tanpa memperdulikan nasehat ibunya si Kucing gering pergi tanpa restu dari Ibunya tersebut.
Disuatu ketika ia berfikir untuk menjadi kestria digjaya, ia berfikir tidak mungkin langsung begitu saja menjadi kestria digjaya. Maka dia mencari guru yang pantas. Dia mencari siapa guru yang paling sakti untuknya supaya dia mendapatkan ilmu yang tinggi.
Dalam keadaan melamun dia melihat matahari yang menyinari alam semesta. Tanpa ragu lagi si Kucing gering langsung mayakini bahwa guru yang pantas untuk nya yaitu matahari.
Kucing gering berkata pada matahari, beberapa bulan si Kucing gering berguru di sang matahari, pada suatu ketika awan gelap berkumpul pelan pelan mendekati matahari yang kemudian menutupi matahari, karena ketebalan awan hitam tesebut cahaya matahari tidak bisa menembus untuk mrnyinari sebagian bumi, dan ketika malam matahari pun hilang sinar sebagian di bumi.
Maka si Kucing gering berfikir ilmu dari sang matahari dirasanya masih kurang tinggi dari ilmu awan gelap yang datang tiba tiba menutupi sunar matahari. Maka belajar lah si Kucing gering itu kepada sang awan, beberapa hari si Kucing gering pun termanung. Tiap kali di belajar di sang awan selalu terbawa mengikuti arah angin, klo angin dari timur dia terbawa ke barat begitu pun sebaliknya, si Kucing pun berfikir bahwa yang lebih sakti bukan lah awan tapi angin yang selalu mendorongnya kesana kemari.
Kacung gering kemudian belajar ilmu kedigjayaan pada angin, yang difikirnya lebih sakti dari pada awan. Beberapa hari kemudian dia belajar dia memperhatikan awan berhembus tapi tidak bisa menumbus kokohnya gunung yang menjulang tinggi. Kucing gering pun berfikir lagi, bahwa kesaktian awan tidak bisa menembus kokohnya gunung tinggi, maka kucing pun berpindah guru yaitu kepada sang gunung yang kokoh menjulang tinggi. Disaat dia belajar, pada suatu waktu dia berkeliling, ada bagian gunung yang banyak lubang dibawah menembus kemana mana. Kucing pun mulai lagi berfikir bahwa sekokoh kokohnya gunung masih banyak lubang menembus kemana mana, maka si Kucing gering pun mencari, siapa yang membuat lubang digunung yang kokoh nan menjulang tinggi, rupanya seekor tikus yang melubangi gunung kokoh tersebut. Jadilah Kucing gering belajar pada tikus tersebut.
Tak kala si Kucing gering belajar pada tikus, tikus berlari dengan tergesa gesa masuk ke lubang dikejar oleh Kucing. Yang mengejar tikus tersebut yaitu ibunya.
Yang kemudian si Kucing gering merasa heran, bingung, dan merasa bodoh dengan apa yang dia lakukan, si Kucing gering menghampiri Ibunya meminta maaf kepada Ibunya tersebut.
Ibu kucing Gering pun berkata : "sehebat hebatnya guru wahai anaku kucing gering, lebih hebat nan sakti mandraguna ialah ibumu ini, maka ingatlah nasehat dan berbaktilah kepada ibumu." ucap ibu kucing tersebut.



