KABAR

Sabtu, 25 Oktober 2014

PERISTIWA KUJANG

Kujang adalah sebuah kampung kecil, terletak di pantai utara Indramayu sebelah barat. Di kampung Kujang itu bermarkas pasukan TNI dibawah pimpinan Letnan Asmad Sentot. Pasukan inilah yang pernah mengadakan serangan terhadap konvoi Belanda di Jembatan Bangkir, seperti diuraikan diatas.

Konon diberitakan bahwa pada suatu hari datanglah seorang kurir bernama Sukardi yang dikirim oleh Dr. Sudiro dari Indramayu dengan membawa sepucuk surat yang isinya antara lain memperingatkan kepada pimpinan pasukan di Kujang, agar sementara waktu pasukannya dipindahkan dari tempat tersebut, karena pada tanggal 7 Desember 1947, tentara Belanda akan melancarkan serangan besar-besaran ke markas TNI di Kujang itu , dari darat dan dari udara.

Sayang, A. Sentot kurang memberi tanggapan  terhadap surat Dr. Sudiro yang sangat penting itu. Mungkin dianggapnya hanya sebagai berita sesaat, karena ternyata sebagai reaksi dari berita itu, haya memeritahkan kepada pasukanyaagar siap-siaga terhadap kemungkinan benarnya berita itu yang disampaikan oleh Dr. Sudiro itu.

Pada tanggal 6 Desember 1947 antara jam 19.00 – 22.00 dan jam 24.00 berturut-turut pos pengawasan dari desa Arahan , Larangan dan Sentigi Cangkring datang melaporkan bahwasanya ada beberapa puluh buah kendaraan yang penuh dengan muatan tentara dan rakyat telah menurunkan muatanya ditempat-tempat tersebut diatas. Pada keesokan harinya, tanggal 7 Desember 1947 jam 06.00 pos pengawasan dari desa Arahan datang lagi dan melaporkan bahwa tentara Belanda dengan disertai oleh rakyat sudah mulai bergerak menuju kampung Waledan. Pada jam 07.00 mulai terdengar suara kapal terbang meraung-raung diudara, yang terdiri dari dua buah bomber, dua buah mustang dan sebuah type capung yang kian lama terdengar terdengar kian mendekati daerah Waledan, kemudian berputar-putar diatas desa Cantigi-Wetan, Lamaran Tarung dan Waledan, kemudian menjatuhkan bom berturut-turut. Sementara itu pasukan infanterinya bergerak maju menuju Waledan dengan menggunakan rakyat sebagai perisai yang dibariskan didepan mereka.

Berhubung tidak ada kemungkinan untuk mengadakan perlawanan, karena kelicikan tentara Belanda menggunakan rakyat sebagai perisai, maka terpaksa pasukan TNI mengundurkan diri dan masuk kehutan api-api yang penuh rawa-rawa untuk melindungi diri dari serangan bom yang tiada henti-hentinya dijatuhkan dari pesawat terbang. Sementara itu pasukan kita yang bertugas dimuara Cimanuk berhasil pula menyelamatkan diri dari berondongan peluru senapan mesin yang ditembakan dari udara.

Memang haruslah diakui bahwa serangan Belanda kali ini sudah betul-betul direncanakan semasak-masaknya untuk menghancurkan semua kekuatan TNI yang bermarkas disitu, sehingga dalam mengadapi serangan Belanda yang gencar itu, tidak banyak yang bisa kita lakukan, selain mengundurkan diri. Sebagai pasukan gerilya kita hanya bisa mengadakan serangan secara tiba-tiba pada kesempatan yang baik, kemudian mengundurkan diri. Maklumlah bahwa persenjataan tentara kita masih dalam keadaan serba darurat. Didaerah pertahanan sebelah barat, tentara Belanda mengumpulkan rakyat dari desa Cantigi untuk menyaksikan mayat dari salah seorang anggota pasukan yang gugur dan menanyakan apakah yang mati itu Sentot atau bukan. Sebenarnya yang mati itu bernama Samiun, akan tetapi oleh yang hadir disitu dijawabnya bahwa yang mati itu memeng Pak Sentot. Kelihatanya jawaban itu sangat memuaskan hati tentara Belanda.

Serangan itu baru berakhir pada jam 16.00 sore hari, mereka kembali ketempatnya masing-masing dengan membawa hasil penggarongan berupa ternak dan lain-lain milik rakyat setempat.

Setelah diadakan konsolidasi, ternyata dari pihak kita selain Samiun yang tersebut diatas tadi, masih ada beberapa orang yang gugur, diantaranya ialah Suparman yang sedang menderita sakit dan tidak mau dibawa mundur oleh kawan-kawannya. Untuk menyembunyikan ia ditutupi lesung, akan tetapi agaknya diketahui oleh pihak Belanda, maka ia pun ditembak mati. Atas dasar pengalaman yang pahit itu maka komandan pasukan merubah siasat, dari saisat definsif menjadi siasat ofentif yang mobil, yakni berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, sambil menunggu lengahnya musuh untuk jika mungkin setiap  waktu melancarkan serangan. Ternyata siasat ini lebih menguntungkan.

Kita kembali lagi kepada perjoangan dalam bidang politik.

Perjanjian Renville dilaksanakan semasa Kabinet Amir Syarifudidin, dan Kabinet Amir Syarifuddin menerima perjanjian Renville. Sebagai pelaksana perjanjian Renville itu, maka semua anggota TNI yang tersebar dikantong-kantong seluruh diselurh Jawa ditarik ke Jogyakarta termasuk anggota-anggota TNI yang dikantong-kantong dalam daerah Indramayu yang pada saat itu sedang mengalami krisis dalam bidang pertahanan karena timbulnya konflik antara pasukan TNI  disitu pihak dengan laskar Hizbullah dilain pihak, yang sebenarnya tidak perlu terjadi andai kata orang-orang tua dari kedua belah pihak segera turun tangan. Maka pelaksanaan keputusan Renville yang mengharuskan pasukan TNI ditarik dari kantong-kantong itu merupakan penyapih yang pada ketika itu dirasakan sangat perlu sehingga konflik bersenjata itun sementara dapat diakhiri, walaupun sangat disesalkan bahwa konflik bersenjata antara kedua belah pihak itu telah menyebabkan gugurnya pahlawan-pahlawan bangsa dari  kedua pihak. Selama daerah pertahanan Jawa Barat ditinggalkan oleh pasukan TNI, maka perlawanan terhadap tentara Belanda yang menduduki kota-kota di Jawa Barat dan juga Indramayu, hanya dilakukan oleh laskar-laskar perjoangan terutama sekali yang besar adalah laskar Hizbullah. Dalam masa kekosongan itu Laskar Hizbullah terus mengadakan perlawanan terhadap tentara Belanda, bahkan kota Indramayu sendiri mengalami penyerbuan Laskar Hizbullah, sehingga berhasil memasuki kota. Akan tetapi sayangnya, tidak lama kemudian laskar Hizbullah ini terpecah menjadi Darul Islam (DI) dibawah pimpinan Kartosuwiryo, yang bertujuan mendirikan negara Islam dengan kekuatan senjata, sedang pihak yang lain tergabung dalam Majelis Islam (MI). Yang masuk Majelis Islam adalah golongan moderet, yang berpendirian bahwa Republik Indonesia adalah modal utama dalam saat yang genting menghadapi Belanda diperlukan persatuan. Akan tetapi kelemahan MI ialah tidak mempunyai pasukan dan sebagian besar terdiri dari pemimpin-pemimpin Senior kawasan Karesidenan Cirebon, terdiri dari SW. Subroto, A. Dasuki dan Moh. Ngali. Oleh sebab itu pemuda-pemuda banyak yang karena ancaman memasuki kelompok DI, sedang pemuda-pemuda dari kalangan MI yang tidak banyak jumlahnya memasuki TNI, seperti Rahmat Hasyim dari Penguragan. Dalam hal Darul Islam ini, daerah Indramayu merupakan sumber tenaga baik untuk eselon atas maupun untuk eselon bawah. Salah satu sebab mengapa demikian, karena markas mereka berpusat di hutan Loyang yang masuk wilayah Indramayu, sehingga hubungannya dengan rakyat Indramayu menjadi lebih dekat dan daerah operasinya pun sering terjadi disekitar daerah Indramayu.

Mengenai istilah DI, Drs. Didi Suryadi mengutip uraia BJ. Bolland dalam bukunya “The Struggle of Islam in modern Indonesia” sebagai berikut :

“Moreover, rumour originally had it that initials “DI”stood for the Indonesia “Daerah” I” that is to say “daerah satu” or “Region One” and its significance was certainly not generally known”.
Mengenai gerakan Kartosuwiryo menjadi gerakan gerombolan untuk menentang Republik, menurut G. Mc. Kahin baru pada bulan Desember 1948, bahkan Republik menganggap sebagai “a regional counter-move against the Dutch made “State of Pasundan.


Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3

Leave a Reply