PERISTIWA KUJANG
Kujang adalah sebuah kampung
kecil, terletak di pantai utara Indramayu sebelah barat. Di kampung Kujang itu
bermarkas pasukan TNI dibawah pimpinan Letnan Asmad Sentot. Pasukan inilah yang
pernah mengadakan serangan terhadap konvoi Belanda di Jembatan Bangkir, seperti
diuraikan diatas.
Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3
Konon
diberitakan bahwa pada suatu hari datanglah seorang kurir bernama Sukardi yang
dikirim oleh Dr. Sudiro dari Indramayu dengan membawa sepucuk surat yang isinya
antara lain memperingatkan kepada pimpinan pasukan di Kujang, agar sementara
waktu pasukannya dipindahkan dari tempat tersebut, karena pada tanggal 7
Desember 1947, tentara Belanda akan melancarkan serangan besar-besaran ke
markas TNI di Kujang itu , dari darat dan dari udara.
Sayang, A.
Sentot kurang memberi tanggapan terhadap
surat Dr. Sudiro yang sangat penting itu. Mungkin dianggapnya hanya sebagai
berita sesaat, karena ternyata sebagai reaksi dari berita itu, haya
memeritahkan kepada pasukanyaagar siap-siaga terhadap kemungkinan benarnya
berita itu yang disampaikan oleh Dr. Sudiro itu.
Pada tanggal 6
Desember 1947 antara jam 19.00 – 22.00 dan jam 24.00 berturut-turut pos
pengawasan dari desa Arahan , Larangan dan Sentigi Cangkring datang melaporkan
bahwasanya ada beberapa puluh buah kendaraan yang penuh dengan muatan tentara
dan rakyat telah menurunkan muatanya ditempat-tempat tersebut diatas. Pada
keesokan harinya, tanggal 7 Desember 1947 jam 06.00 pos pengawasan dari desa
Arahan datang lagi dan melaporkan bahwa tentara Belanda dengan disertai oleh
rakyat sudah mulai bergerak menuju kampung Waledan. Pada jam 07.00 mulai
terdengar suara kapal terbang meraung-raung diudara, yang terdiri dari dua buah
bomber, dua buah mustang dan sebuah type capung yang kian lama terdengar
terdengar kian mendekati daerah Waledan, kemudian berputar-putar diatas desa
Cantigi-Wetan, Lamaran Tarung dan Waledan, kemudian menjatuhkan bom
berturut-turut. Sementara itu pasukan infanterinya bergerak maju menuju Waledan
dengan menggunakan rakyat sebagai perisai yang dibariskan didepan mereka.
Berhubung
tidak ada kemungkinan untuk mengadakan perlawanan, karena kelicikan tentara
Belanda menggunakan rakyat sebagai perisai, maka terpaksa pasukan TNI
mengundurkan diri dan masuk kehutan api-api yang penuh rawa-rawa untuk
melindungi diri dari serangan bom yang tiada henti-hentinya dijatuhkan dari
pesawat terbang. Sementara itu pasukan kita yang bertugas dimuara Cimanuk
berhasil pula menyelamatkan diri dari berondongan peluru senapan mesin yang
ditembakan dari udara.
Memang
haruslah diakui bahwa serangan Belanda kali ini sudah betul-betul direncanakan
semasak-masaknya untuk menghancurkan semua kekuatan TNI yang bermarkas disitu,
sehingga dalam mengadapi serangan Belanda yang gencar itu, tidak banyak yang
bisa kita lakukan, selain mengundurkan diri. Sebagai pasukan gerilya kita hanya
bisa mengadakan serangan secara tiba-tiba pada kesempatan yang baik, kemudian
mengundurkan diri. Maklumlah bahwa persenjataan tentara kita masih dalam
keadaan serba darurat. Didaerah pertahanan sebelah barat, tentara Belanda
mengumpulkan rakyat dari desa Cantigi untuk menyaksikan mayat dari salah
seorang anggota pasukan yang gugur dan menanyakan apakah yang mati itu Sentot
atau bukan. Sebenarnya yang mati itu bernama Samiun, akan tetapi oleh yang
hadir disitu dijawabnya bahwa yang mati itu memeng Pak Sentot. Kelihatanya
jawaban itu sangat memuaskan hati tentara Belanda.
Serangan itu
baru berakhir pada jam 16.00 sore hari, mereka kembali ketempatnya
masing-masing dengan membawa hasil penggarongan berupa ternak dan lain-lain
milik rakyat setempat.
Setelah
diadakan konsolidasi, ternyata dari pihak kita selain Samiun yang tersebut
diatas tadi, masih ada beberapa orang yang gugur, diantaranya ialah Suparman
yang sedang menderita sakit dan tidak mau dibawa mundur oleh kawan-kawannya.
Untuk menyembunyikan ia ditutupi lesung, akan tetapi agaknya diketahui oleh
pihak Belanda, maka ia pun ditembak mati. Atas dasar pengalaman yang pahit itu
maka komandan pasukan merubah siasat, dari saisat definsif menjadi siasat
ofentif yang mobil, yakni berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang
lain, sambil menunggu lengahnya musuh untuk jika mungkin setiap waktu melancarkan serangan. Ternyata siasat
ini lebih menguntungkan.
Kita kembali
lagi kepada perjoangan dalam bidang politik.
Perjanjian Renville
dilaksanakan semasa Kabinet Amir Syarifudidin, dan Kabinet Amir Syarifuddin
menerima perjanjian Renville. Sebagai pelaksana perjanjian Renville itu, maka
semua anggota TNI yang tersebar dikantong-kantong seluruh diselurh Jawa ditarik
ke Jogyakarta termasuk anggota-anggota TNI yang dikantong-kantong dalam daerah
Indramayu yang pada saat itu sedang mengalami krisis dalam bidang pertahanan
karena timbulnya konflik antara pasukan TNI
disitu pihak dengan laskar Hizbullah dilain pihak, yang sebenarnya tidak
perlu terjadi andai kata orang-orang tua dari kedua belah pihak segera turun
tangan. Maka pelaksanaan keputusan Renville yang mengharuskan pasukan TNI
ditarik dari kantong-kantong itu merupakan penyapih yang pada ketika itu
dirasakan sangat perlu sehingga konflik bersenjata itun sementara dapat
diakhiri, walaupun sangat disesalkan bahwa konflik bersenjata antara kedua
belah pihak itu telah menyebabkan gugurnya pahlawan-pahlawan bangsa dari kedua pihak. Selama daerah pertahanan Jawa
Barat ditinggalkan oleh pasukan TNI, maka perlawanan terhadap tentara Belanda
yang menduduki kota-kota di Jawa Barat dan juga Indramayu, hanya dilakukan oleh
laskar-laskar perjoangan terutama sekali yang besar adalah laskar Hizbullah.
Dalam masa kekosongan itu Laskar Hizbullah terus mengadakan perlawanan terhadap
tentara Belanda, bahkan kota Indramayu sendiri mengalami penyerbuan Laskar
Hizbullah, sehingga berhasil memasuki kota. Akan tetapi sayangnya, tidak lama
kemudian laskar Hizbullah ini terpecah menjadi Darul Islam (DI) dibawah
pimpinan Kartosuwiryo, yang bertujuan mendirikan negara Islam dengan kekuatan
senjata, sedang pihak yang lain tergabung dalam Majelis Islam (MI). Yang masuk
Majelis Islam adalah golongan moderet, yang berpendirian bahwa Republik Indonesia
adalah modal utama dalam saat yang genting menghadapi Belanda diperlukan
persatuan. Akan tetapi kelemahan MI ialah tidak mempunyai pasukan dan sebagian
besar terdiri dari pemimpin-pemimpin Senior kawasan Karesidenan Cirebon,
terdiri dari SW. Subroto, A. Dasuki dan Moh. Ngali. Oleh sebab itu
pemuda-pemuda banyak yang karena ancaman memasuki kelompok DI, sedang
pemuda-pemuda dari kalangan MI yang tidak banyak jumlahnya memasuki TNI,
seperti Rahmat Hasyim dari Penguragan. Dalam hal Darul Islam ini, daerah Indramayu
merupakan sumber tenaga baik untuk eselon atas maupun untuk eselon bawah. Salah
satu sebab mengapa demikian, karena markas mereka berpusat di hutan Loyang yang
masuk wilayah Indramayu, sehingga hubungannya dengan rakyat Indramayu menjadi
lebih dekat dan daerah operasinya pun sering terjadi disekitar daerah
Indramayu.
Mengenai
istilah DI, Drs. Didi Suryadi mengutip uraia BJ. Bolland dalam bukunya “The
Struggle of Islam in modern Indonesia” sebagai berikut :
“Moreover,
rumour originally had it that initials “DI”stood for the Indonesia “Daerah” I”
that is to say “daerah satu” or “Region One” and its significance was certainly
not generally known”.
Mengenai gerakan Kartosuwiryo menjadi gerakan
gerombolan untuk menentang Republik, menurut G. Mc. Kahin baru pada bulan
Desember 1948, bahkan Republik menganggap sebagai “a regional counter-move
against the Dutch made “State of Pasundan.Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3

Leave a Reply