KABAR

Selasa, 23 Desember 2014

MAPAG SRI



Mapag Sri adalah suatu upacara tradisinal yang masih hidup subur dikalangan masyarakat petani Indramayu. “Mapag” dalam bahasa Indonesia berarti “menjemput“. Sedangkan yang dimaksud dengan “Sri” ialah “padi”. Dengan demikian, maka mapag-sri bearti menjemput padi.
                Mapag-Sri biasanya diselengarakan menjelang musim panen sekitar bulan Maret atau April, karena panen besar di Indramayu berlangsung sekitar Mei dan Juni , namun demikian upacara mapag-sri itu tidak sama disemua desa. Bagi desa desa yang musim panennya belakangan, maka upacara mapag sri nya pun akan diselenggarakan menjelang musim panen ditempat tersebut.
                Upacara mapag sri itu diselenggarakan dalam bentuk selamatan yang dilangsungkan oleh desa dan bertempat di balai desa. (di Indramayu balai desa dinamakan lebu. Mungkin berasal dari Palebon, yakni tempan menyimpan abu mayat setelah dibakar). Biayanya dikumpulkan dari patungan rakyat. Pada tiap-tiap diadakan upacara mapag-sri di Balai Desa diadakan pertunjukan wayang kulit yang mengambil cerita “DEWI SRI”.

                Menurut cerita Ki Dalang, Dewi Sri itu adalah putri Betara Guru, ceritanya sebagai berikut :
Betara Guru mempunyai putra dan seorang putri yaitu Angkarasa dan Angkasari. Pada suatu hari Betara Guru memanggil kudua putranya untuk menghadap, akan tetapi berhubungan tempat tinggal Angkrasa jauh, maka disuruhnya adiknya yaitu Angkasari memanggilnya. Ketika Angkasari tiba di tempat kakaknya Angkarasa sedang sakit panas. Burhubung panasnya luar biasa, Ankasari terpelanting oleh dorongan hawa panas yang keluar dari tubuh Angkarasa.
                Oleh sebab itu Angkasari sakit hati, maka iapun kembali menghadap ayahnya Dewa Guru dan memberitahukan bahwa Angkarasa tidak mau datang, bahkan menantang mengadu kesaktian. Karena pengaduan Angkasari yang dibut-buat itu, kemudian diutusnya Betara Narada untuk melihat keadaan Angkarasa.
                Setibanya Betara Narada di tempat Angkarasa, dilihatnya Angkarasa telah berganti rupa menjadi ular. Maka dinamakanlah “Hyang Antaboga”
                Meskipun rupanya telah berubah menjadi ular, namun penyakitnya belum juga baik.
                Ketika ditanya oleh Betara Narada asal-usul perubahan bentuknya itu, maka Angkarasa menceritakan bahwa ia disumpahi oleh ayahnya karena fitnah yang dibuat-buat oleh Angkasari adiknya sendiri. Sebenarnya ia tidak bisa datang karena benar sedabg sakit.
                Betara Narada merasa kasihan melihat nasib Angkarasa, maka diobatilah penyakitnya denga sada-lanang yang dikilikan pada telingannya.
                Dengan pengobatan Betara Narada itu, maka keluarlah penyakit Angkarasa  dari telingannya berupa telur yang sangat panas. Betara Narada tidak kuasa memegang telur itu, maka dicampakanya sehingga terpelanting jatuh di “Sapta Loka” (Bumi lapis tujuh) dan disana ditemukan oleh Dewi Pertiwi. Setelah dierami maka telur itu menetas.
                Dari kulitnya jadilah “Emban-Dunya”, dari putih-putihnya jadilah “Sejana” dan dari kuning-kuningnya, jadilah “Dewi Pohaci” yaitu Dewi Sri yang cantik rupanya.
                Dewi Sri yang cantik jelita itu oleh Betara Guru akan dikawinkan dengan Budug-Basuh. Tetapi Dewi Sri menolak karena Budug Basuh itu amat buruk rupanya sedang badanya penuh dengan borok sehingga baunya busuk, namun demikian Betara Guru memaksanya dan Dewi Sri diancam dengan senjata bernama “Jungkat”. Dewi Sri pilih mati dari pada dikawinkan dengan Budug Basuh yang menjijikan itu, maka ia pun nekad menerjang senjata  jungkit itu sehingga badanya putus menjadi dua. Meskipun Dewi Sri sudah mati namun suara tangisnya masih terdengar meraung-raung menyayat hati, sedang dari kuburanya tumbuh tanaman yang disebut “padi”.
                Yang disebut senjata Jungkit ialah “ani-ani”, yaitu sejenis alat yang khusus untuk memotong padi, selain dengan ani-ani. Sedang yang dimaksud dengan tangis Dewi Sri ialah suara jerami yang sering dijadikan mainan semacam seruling oleh anak gembala.
                Dahulu setiap kali datang musim pemotong padi, maka yang telah dipotong itu dibiarkan kering disuatu tempat di sawah yang dinamakan “bunen”. Disanalah padi dibenahi dari pocongan (satu ikat) dijadikan “Gedengan”. Tiap empat gedeng dinamakan bawon dan tiap lima gedeng disebut “angga”.
                Setelah padi itu kering dibunen, baru kemudian diangkat kerumah, untuk disimpan dilumbung.
                Mengangkut padi dari bunen ke lumbung dahulu dengan suatu upacara dimana para pemuda secara gotong royong mengangkut padi itu dengan menggunakan pikulan panjang, dimana gedengan padi dijajarkan. Pada kedua ujung pikulan itu biasanya itu digantungkan gentha, yaitu sejenis kliningan terbuat dari kayu. Oleh goncangan pikulan yang turun naik, gentha itu brsuara dengan irama yang sedap didengar telinga.
                Ada sementara pemuda yang melilitkan kain merah pada gedengan padi yang dipikulnya sehingga merupakan suatu pandangan yang meriah.
                Di bagian belakang dari pawai pengengkut padi itu berbaris pula penabuh gamelan (kempling) atau reog dengan beberapa ronggeng yang berjalan hilir mudik, sebentar kebelakang, sebentar depan sambil menyanyikan lagu-lagu khas dermayonan dengan jenaka.
                Yang sangat unik ialah setia kali gong berbunyi, gadis itu memeluk pemuda yang terdekat diciumnya sebagai hiburan untuk membangkitkan semangat mereka sehingga bekerja tanpa mengenal lelah.
                Mereka bekerja secara gotong-royong tanpa upa selain “ingon” yakni sekedar makan, minum dan tembakau. Akan tetapi sekarang upacara semacam itu sudah tidak ada lagi dan hanya merupakan kenangan masa lalu yang indah.
                Sebenarnya pada jaman pemerintahan Demak upacara mapag-sri itu telah diganti dengan muludan, namun upacara mapag-sri, terutama didaerah agraris yang mono-kultur seperti di Indramayu, upacara itu masih tetap berjalan hingga sekarang dan merupakan upacara resmi yang diselenggarakan oleh Desa sebelum upacara mapag-sri, sebenarnya masih ada lagi satu macam upacara  adat, yaitu “Mapag-Tamba”.
                Upacara mapag-tamba biasanya diadakan saat tanaman padi mulai disaingi atau kalau sewaktu-waktu ada serangan hama tanaman padi, melainkan air yang konon diasosiasikan sebagai air bekas pancuran panjang-jimat.
                Panjang-jimat adalah pusaka kraton Cirebon peninggalan Sunan Gunung Jati berupa pring (keramik Cina). Memang banyak mitos beredar dikalangan masyarakat sekitar benda yang dianggap keramat itu.
                Pamong desa yang bertugas mapag-tamba itu adalah lebai, rupanya tidak semua lebai percaya begitu saja pada kemapuhan obat itu, namun karena  itu upacara adat, apa boleh buat Lebai pun ergi mapag-tamba, tapi tidak sampai ke Cirebon melainkan cukup  di Clancang saja dan dari sana dibawa air kedesanya. Bahkan ada Lebai yang nekad diambilkan saja air dari gentongnya sendiri dan dikatakan bahwa air itu bekas pencuci panjang-jimat.
                Pada zaman pemerintah Bupati Dasuki, upacara mapag-tamba itu dilarang. Desa tidak di izinkan memungut dana untuk keperluan tersebut dan dilarang dibicarakan dalam salapangan  sebab dianggapnya hanya kebodohan semata-mata. Namun demikian agaknya masih ada satu-dua desa yang karena fanafismenya nekad secara diam-diam mengadakan upacara mapag-tamba itu walaupun tanpa ada keramaian di desa.


Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan Ke-3

Leave a Reply