KANG KANDANG KERA DAN KANG KANDANG KURA
Kang kandang kura karo kang kandang ketek
Pada
suatu hari ada kang kandang kura sedang berjalan-jalan mencari makan, kebetulan
dia berjumpa dengan temannya yaitu kang kandang kera yang sedang mencari makan
diatas pohon. Kang kandang kera memanggil-manggil kang kandang kura : “ Hai,
kang kandang kura, sedang apa. Betapa lamanya aku tidak berjumpa denganmu”.
Terkejutlah kang kandang kura mendengar suara itu. Kemudian kang kandang kera
turun dan ngobrol dibawah pohon itu.
Di dalam obrolan kang kandang
kera berbicara dengan kang kandang kura : “kang kandang kura, mau nggak kita
sama-sama mengadu kesaktian?”.
Dengan terkejut si kura menjawab
: “ Kesaktian apa yang harus kubanggakan kang kandang kera, aku ini orang
bodoh”. Kalau begitu, begini saja, maukah seandainya kita saling membakar ?”,
kata kang kandang kera. Tidak lama kemudian kang kandang kura menjawab :
“Baiklah, tetapi siapakah yang lebih dahulu mau dibakar?”. “Engkaulah yang
mula-mula dibakar”, jawab Kera. Kura menolaknya dengan mengatakan : “Engkaulah
yang sepantasnya lebih dahulu dibakar karena engkau yang mengajak”,”Ah.... engkau dahulu, baru aku menyusul”, jawab Kera
pula. Akhirnya terpaksalah si kura mengalah untuk dibakar terlebih dahulu.
Sesudah perjanjian itu, pergilah
keduanya mencari kayu yangsudah kering untuk membakar tersebut. Demikianlah si
kera dan kura bekerja, sehingga kayu yang dikumpulkan menjadi banyak. Kemudian
si kura ditimbuni dengan daun dan kayu tadi. Si kera berkata : “Awas yan kang
kandang kura, kalau aku memanggil, jawablah dengan segera, itu tandanya engkau
masih hidup”. “Baiklah”, jawab sang kura. Tidak lama kemudian kayu tadi dibakar
dan karena sudah agak lama, akhirnya kera ingin mengetahui apakah kura sudah
mati atau belum. Menurut dugaanya kura
pasti sudah mati. Dia coba-coba memenggil kura : “Kang kandang Kura!” “Nuun”,
jawab kang kandang kura. Se kera terkejut karena dugaanya meleset. Mendengar si
kura masih hidup terus si kera tadi mengambil kayu lagi untuk memperbesar nyala
api. Kemudian si kura dipanggil lagi :
“Kang kandang kura!”, “Nuun”, jawabnya. Aduh, kang kandang kura betapa saktinya
engkau ini, lihatlah kayu ini hampir habis, tetapi belum juga mati.
Tidak lama kemudian, tumpukan
kayupun habislah, dan api sudah padam. Si kera mengambil kayu untuk memisahkan
abu hasil pembakaran kayu tersebut, tetapi sangat masgul melihat kura yang masih hidup, tak terbakar
sedikitpun. Si kera bertanya kepada kura : “Alangkah saktinya kau ini kang
kandang kura menjawab dengan gembira : “Aku ini tidak punya kesaktian apapun
kang kandang kura”. Si kera bertambah heran mendengar jawaban kura demikian dan
akhirnya dia berkata : “Hayo kita cari kayu lagi untuk membakar badanku”.
Karena kayu sudah banyak maka tibalah giliran si kera untuk dibakar.
Dengan hari yang jengkel si kera
maju menuju tumpukan kayu itu. Si kurapun berpesan seandainya kera dipanggil
maka harus segera memjawab. Kayu mulai dibakar dibagian pinggirnya. Kera merasa
kepanasan, tetapi malu seandainya keluar dari tumpukan kayu tersebut. Lama
kelamaan api bertambah besar, habislah kayu itu semua. Kura memanggilnya :
“Kang kandang kera....., kang kandang kera....!”Lho, kemana nih kang kandang
kera, apakah sudah mati, pikirnya. Sesudah kayu menjadi abu semuanya, dan
ternyata kerapun sudah tak berbentuk lagi, sudah berubah menjadi abu.
Melihat tulang-tulang kera itu,
si kura berpikir, mengapa kera itu bisa mati? Wah, mungkin kera tidak dapat
menyembunyikan dari yaitu dengan membuat lubang ditanah di bawah tumpukan kayu
tadi. Walaupun demikian si kura tidak
merasa menyesal perbuatannya, karena ia berpendapat bahwa kang kandang kera lah
yang mengajak lebih dahulu untuk berbuat demikian.
Itulah akibatnya orang yang
berlaku sombong tak mau kalah dari yang lain. Dia bertindak seolah-olah dirinya
yang pasti akan mendapatkan kemenangan, tetapi akibatnya malah kehancuran.
Sumber : Sejarah
Indramayu Cetakan Ke-3

Leave a Reply