KABAR

Selasa, 23 Desember 2014

DEWI SRI



Cerita tentang Dewi Sri ini sudah tidak asing lagi bagi orang Indramayu, karena menjelang panen biasa diadakan untuk “Mapag Sri”. Ceriteranya adalah sebagai berikut :
                Pada zaman dahulu tersebutlah seoarang Batara Guru yang beranam Sang Pramesti Guru. Dia adalah Ratuning Jagat artinya yang menguasai dunia serta seisinya. Pada suatu hari Batara Guru mengumpulkan para Dewa semua untuk memberitahukan bahwa Dewa semuanya harus bekerja bergotong-royong untuk membantu “Swarga Loka”. Setelah pemberitahuan itu selesai, kemudian Dewa-dewa itu masing-masing mengerjakan tugasny yang telah diatur  oleh Batara Guru.

                Para Dewa dalam melaksanakan pekerjaannya itu tidak ada yang malas-malas, kecuali Anta Boga. Batara Guru tahu bahwa Anta Boga tidak ikut bekerja dalam membangun Swarga Loka tersebut, akhirnya dia dipanggil untuk menghadap Batara Guru. Sesudah dia menghadap, marahlah Batara Guru kepadanya. Anta Boga menangis karena sedihnya. Karena kesaktiannya  maka tiga tetes air mata  yang keluar dari matanya itu berubah menjadi tiga butir telur. Sesudah Batara Guru agak berkurang marahnya, disuruhnya Anta Boga pergi dengan telurnya yang harus ditetaskan. Kemudian telur itu disimpannya didalam mulutnya.
                Ditengah perjalanan sangAnta Boga berjumpa dengan sahabatnya Gagak Putih. Kemudian Anta Boga ditanya oleh Gagak Putih, akan tetapi pertanyaan yang berulang kali itu dijawab dengan sepatah katapun. Melihat keadaan yang demikian, marahlah Gagak Putih kepada Anta Boga. Tak tahulah bagaimana tindakan Gagak Putih itu sehingga dua telur Anta Boga pecah dan tinggal satu. Telur yang pertama pecah ditengah laut, karena kekuasaan  dewa  maka telur itu menjadi manusia yang ganteng dan diurus oleh raja didasar laut. Sedangkan telur yang kedua pecah didarat dan jadilah manusia yang dipimpin oleh seorang raja didarat. Tetapi sayang kedua pemuda yang ganteng itu mempunyai kelainan dari manusia biasa. Pemuda yang tinggal dilaut bernama Budeg Basuh baunya seperti ikan, sedangkan yang didarat bernama Sangkala Buat yang berbau bangkai.
                Telur yang ketiga menetas menjadi seorang putera yang cantik, bernama Dewi Sri. Selanjutnya Dewi Sri mau diserahkan kepada Batara Guru. Batara Guru menghendaki supaya puteri itu diurus sampai dewasa.
                Lama-kelamaan sang puteri (Dewi Sri) terkenal dimana-mana. Karena kelakuannya yang baikdan lagi parasnya yang cantik, akhirnya banyaklah pemuda yang datang mau melamar. Diantaranya Budeg Basuh dan Sangkala Buat. Saking bingungnya sang Anta Boga mengadakan sayembara. Barang siapa yang yang mengingkan puteri haruslah orang-orang (raja) yang sakti manderaguna. Disitulah ramailah orang mulai mengikuti sayembara, dan Sangkala Buat bersumpah mau kawin dengan dengan Dewi Sri. Akhirnya sayembara itu dimenagkan oleh Budug Basu. Dengan demikian Bedug Basu berhak memaksa Dewi Sri untuk dijadikan istrinya. Karena cintanya terhadapDewi Sri, maka Budug Basumemaksanya kawin cepat-cepat untuk dibawa ke negeranya, tetapi Dewi Sri minta tempo dan Budug Basu pun menyetujuinya.
                Selama tempo yang dijanjikan itu Dewi Sri selalu melamun sebab hatinya tidak begitu setuju. Akhirnya Dewi Sri jatuh sakit sampai meninggal dunia. Bebrapa hari kemudian tersiarlah kabar tentang kematian Dewi Sri itu. Karena cintanya kepada Dewi Sri, Budug Basu berbuat nekad mau bunuh diri dan dikatakanya bahwa ia masuk ke laut dan menjadi ikan di laut itu.  Sangkala Buat meninggalkan dunia di barat dan menjelma menjadi hewan-hewan yang ada didarat. Ditempat  Dewi Sri dikubur tumbuhlah bermacam-macam tanaman kelapa, padi, dan sebagainya.
                Nah, sampai sekarang menurut kepercayaan-kepercayaan kuno kalau makan nasi tampa ikan rasanya kurang nikmat, karena merupakan perkawinan antara Budug Basu dengan Dewi Sri atau Dewi Sri Dengan Sangkala Buat.



Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan Ke-3

Leave a Reply