KABAR

Sabtu, 25 Oktober 2014

SEDEKAH BUMI

Sedekah bumi adalah suatu bentuk upacara tradisional yang diselenggarakan oleh rakyat Kabupaten Indramayu. Sedekah bumi ini diselenggarakan di tiap-tiap desa menjelang para petani akan mengerjakan sawahnya. Biasanya berlangsung di pengunjung musim kemarau dan menjelang musim hujan, yaitu disekitar bulan September.

               
Seperti halnya upacara tradisional yang lain, Sedekah bumi pun sesuai dengan namanya “SEDEKAH” yaitu selamatan menyambut datangnya musim penghujan, yang diselenggarakan di balai desa dengan nanggap wayang yang mengambil ceritera khusus yaitu “BUMI-LOKA”. Bumi-Loka adalah tokoh wayang yang menurut ceritera Ki Dalang  adalah putra Prabu Natakawaca.

                Adapan ceriteranya sebagai berikut: Syahdan adalah seorang Raja yang sakti mandraguna, Prabu Natakawaca namanya. Sang Prabu jatuh cinta kepada Bidadari di Suralaya bernama Dewi Supraba. Berhubung dengan itu Prabu Natakawaca bertekad hendak naik ke Suralaya untuk melamar Dewi Supraba kepada Batara Guru.

                Pada suatu hari niatnya itu dilaksanakan dan ia pun naik ke Suralaya, akan tetapi hatinya sangat kecewa karena lamaranya ditolak oleh Dewa.

                Prabu Natakawaca amat murka, dan ia pun mengamuk di Suralaya menantang semua Dewa untuk berperang. Tantangan Prabu Natakawaca ternyata tidak sia-sia, sebab semua Dewa tidak ada yang sanggup mengalahkannya.

                Keadaan di Suralaya menjadi porak-poranda karena diamuk oleh Prabu Natakawaca yang amat sakti itu, sehingga Dewa Guru sangat prihatin. Untuk mengatasi keadaan yang sangat gawat itu Dewa Guru segera mungurus Batara Narada turun ke Mayapada untuk menjumpai Arjuna di Negara Amarta, maksudnya Arjuna dipanggil menghadap ke Suralaya untuk dimintai bantuannya menghadapi Prabu Natakawaca.

                Setibanya di Suralaya Arjuna memang melihat suasana yang menyedihkan, maka ia pun segera menemui Prabu Natakawaca, sehingga pertempuran tidak bisa dielakan lagi. Pertempuran berlangsung hebat sekali, karena kedua-duanya sama-sama sakti. Namun demikian Arjuna kelihatan lebih unggul dari lawanya. Pada suatu kesempatan yang baik Arjuna dengan tangkasnya menusuk Prabu Natakawaca dengan keris pancaroba sehingga mati.

                Dengan matinya Prabu Natakawaca itu keadaan di Suralaya aman kembali seperti sedia kala. Namun persoalanya tidak selesai sampai disitu saja, karena putra Prabu Natakawaca bernama Bhumi-Loka menuntut balas terhadap Arjuna atas kematian ayahnya.

                Maka Negara Amarta diserang sehingga semua tanah di Amarta kering dan pecah-pecah. Rakyat Amarta sangat menderita, jangankan hendak mengerjakan sawah dan ladang, air untuk minum saja amat susah, sekali lagi Arjuna yang mengetahui hal itu segera mencari Bhumi-Loka dan membunuhnya dalam suatu pertempuran yang dahsyat.

                Berhubungan dengan matinya Bhumi-Loka maka hujan pun turun. Dengan demikian keadaan tanah yang selama ini pecah-pecah dan gersang kini menjadi subur kembali. Keadaan itu dipergunakan oleh rakyat Amarta untuk mulai menanam padi.


Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3

Leave a Reply