SEDEKAH BUMI
Sedekah bumi adalah suatu bentuk
upacara tradisional yang diselenggarakan oleh rakyat Kabupaten Indramayu.
Sedekah bumi ini diselenggarakan di tiap-tiap desa menjelang para petani akan
mengerjakan sawahnya. Biasanya berlangsung di pengunjung musim kemarau dan
menjelang musim hujan, yaitu disekitar bulan September.
Seperti
halnya upacara tradisional yang lain, Sedekah bumi pun sesuai dengan namanya
“SEDEKAH” yaitu selamatan menyambut datangnya musim penghujan, yang
diselenggarakan di balai desa dengan nanggap wayang yang mengambil ceritera khusus
yaitu “BUMI-LOKA”. Bumi-Loka adalah tokoh wayang yang menurut ceritera Ki
Dalang adalah putra Prabu Natakawaca.
Adapan
ceriteranya sebagai berikut: Syahdan adalah seorang Raja yang sakti mandraguna,
Prabu Natakawaca namanya. Sang Prabu jatuh cinta kepada Bidadari di Suralaya
bernama Dewi Supraba. Berhubung dengan itu Prabu Natakawaca bertekad hendak
naik ke Suralaya untuk melamar Dewi Supraba kepada Batara Guru.
Pada
suatu hari niatnya itu dilaksanakan dan ia pun naik ke Suralaya, akan tetapi
hatinya sangat kecewa karena lamaranya ditolak oleh Dewa.
Prabu
Natakawaca amat murka, dan ia pun mengamuk di Suralaya menantang semua Dewa
untuk berperang. Tantangan Prabu Natakawaca ternyata tidak sia-sia, sebab semua
Dewa tidak ada yang sanggup mengalahkannya.
Keadaan
di Suralaya menjadi porak-poranda karena diamuk oleh Prabu Natakawaca yang amat
sakti itu, sehingga Dewa Guru sangat prihatin. Untuk mengatasi keadaan yang
sangat gawat itu Dewa Guru segera mungurus Batara Narada turun ke Mayapada
untuk menjumpai Arjuna di Negara Amarta, maksudnya Arjuna dipanggil menghadap
ke Suralaya untuk dimintai bantuannya menghadapi Prabu Natakawaca.
Setibanya
di Suralaya Arjuna memang melihat suasana yang menyedihkan, maka ia pun segera
menemui Prabu Natakawaca, sehingga pertempuran tidak bisa dielakan lagi.
Pertempuran berlangsung hebat sekali, karena kedua-duanya sama-sama sakti.
Namun demikian Arjuna kelihatan lebih unggul dari lawanya. Pada suatu
kesempatan yang baik Arjuna dengan tangkasnya menusuk Prabu Natakawaca dengan
keris pancaroba sehingga mati.
Dengan
matinya Prabu Natakawaca itu keadaan di Suralaya aman kembali seperti sedia
kala. Namun persoalanya tidak selesai sampai disitu saja, karena putra Prabu
Natakawaca bernama Bhumi-Loka menuntut balas terhadap Arjuna atas kematian
ayahnya.
Maka
Negara Amarta diserang sehingga semua tanah di Amarta kering dan pecah-pecah.
Rakyat Amarta sangat menderita, jangankan hendak mengerjakan sawah dan ladang,
air untuk minum saja amat susah, sekali lagi Arjuna yang mengetahui hal itu
segera mencari Bhumi-Loka dan membunuhnya dalam suatu pertempuran yang dahsyat.
Berhubungan
dengan matinya Bhumi-Loka maka hujan pun turun. Dengan demikian keadaan tanah
yang selama ini pecah-pecah dan gersang kini menjadi subur kembali. Keadaan itu
dipergunakan oleh rakyat Amarta untuk mulai menanam padi.
Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3
Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3

Leave a Reply