KABAR

Sabtu, 25 Oktober 2014

MAPAG SRI


Mapag Sri adalah suatu upacara tradisinal yang masih hidup subur dikalangan masyarakat petani Indramayu. “Mapag” dalam bahasa Indonesia berarti “menjemput“. Sedangkan yang dimaksud dengan “Sri” ialah “padi”. Dengan demikian, maka mapag-sri bearti menjemput padi.

                Mapag-Sri biasanya diselengarakan menjelang musim panen sekitar bulan Maret atau April, karena panen besar di Indramayu berlangsung sekitar Mei dan Juni , namun demikian upacara mapag-sri itu tidak sama disemua desa. Bagi desa desa yang musim panennya belakangan, maka upacara mapag sri nya pun akan diselenggarakan menjelang musim panen ditempat tersebut.

                Upacara mapag sri itu diselenggarakan dalam bentuk selamatan yang dilangsungkan oleh desa dan bertempat di balai desa. (di Indramayu balai desa dinamakan lebu. Mungkin berasal dari Palebon, yakni tempan menyimpan abu mayat setelah dibakar). Biayanya dikumpulkan dari patungan rakyat. Pada tiap-tiap diadakan upacara mapag-sri di Balai Desa diadakan pertunjukan wayang kulit yang mengambil cerita “DEWI SRI”.

                Menurut cerita Ki Dalang, Dewi Sri itu adalah putri Betara Guru, ceritanya sebagai berikut :

Betara Guru mempunyai putra dan seorang putri yaitu Angkarasa dan Angkasari. Pada suatu hari Betara Guru memanggil kudua putranya untuk menghadap, akan tetapi berhubungan tempat tinggal Angkrasa jauh, maka disuruhnya adiknya yaitu Angkasari memanggilnya. Ketika Angkasari tiba di tempat kakaknya Angkarasa sedang sakit panas. Burhubung panasnya luar biasa, Ankasari terpelanting oleh dorongan hawa panas yang keluar dari tubuh Angkarasa.

                Oleh sebab itu Angkasari sakit hati, maka iapun kembali menghadap ayahnya Dewa Guru dan memberitahukan bahwa Angkarasa tidak mau datang, bahkan menantang mengadu kesaktian. Karena pengaduan Angkasari yang dibut-buat itu, kemudian diutusnya Betara Narada untuk melihat keadaan Angkarasa.

                Setibanya Betara Narada di tempat Angkarasa, dilihatnya Angkarasa telah berganti rupa menjadi ular. Maka dinamakanlah “Hyang Antaboga”

                Meskipun rupanya telah berubah menjadi ular, namun penyakitnya belum juga baik.

                Ketika ditanya oleh Betara Narada asal-usul perubahan bentuknya itu, maka Angkarasa menceritakan bahwa ia disumpahi oleh ayahnya karena fitnah yang dibuat-buat oleh Angkasari adiknya sendiri. Sebenarnya ia tidak bisa datang karena benar sedabg sakit.

                Betara Narada merasa kasihan melihat nasib Angkarasa, maka diobatilah penyakitnya denga sada-lanang yang dikilikan pada telingannya.

                Dengan pengobatan Betara Narada itu, maka keluarlah penyakit Angkarasa  dari telingannya berupa telur yang sangat panas. Betara Narada tidak kuasa memegang telur itu, maka dicampakanya sehingga terpelanting jatuh di “Sapta Loka” (Bumi lapis tujuh) dan disana ditemukan oleh Dewi Pertiwi. Setelah dierami maka telur itu menetas.

                Dari kulitnya jadilah “Emban-Dunya”, dari putih-putihnya jadilah “Sejana” dan dari kuning-kuningnya, jadilah “Dewi Pohaci” yaitu Dewi Sri yang cantik rupanya.

               
Dewi Sri yang cantik jelita itu oleh Betara Guru akan dikawinkan dengan Budug-Basuh. Tetapi Dewi Sri menolak karena Budug Basuh itu amat buruk rupanya sedang badanya penuh dengan borok sehingga baunya busuk, namun demikian Betara Guru memaksanya dan Dewi Sri diancam dengan senjata bernama “Jungkat”. Dewi Sri pilih mati dari pada dikawinkan dengan Budug Basuh yang menjijikan itu, maka ia pun nekad menerjang senjata  jungkit itu sehingga badanya putus menjadi dua. Meskipun Dewi Sri sudah mati namun suara tangisnya masih terdengar meraung-raung menyayat hati, sedang dari kuburanya tumbuh tanaman yang disebut “padi”.

                Yang disebut senjata Jungkit ialah “ani-ani”, yaitu sejenis alat yang khusus untuk memotong padi, selain dengan ani-ani. Sedang yang dimaksud dengan tangis Dewi Sri ialah suara jerami yang sering dijadikan mainan semacam seruling oleh anak gembala.
                Dahulu setiap kali datang musim pemotong padi, maka yang telah dipotong itu dibiarkan kering disuatu tempat di sawah yang dinamakan “bunen”. Disanalah padi dibenahi dari pocongan (satu ikat) dijadikan “Gedengan”. Tiap empat gedeng dinamakan bawon dan tiap lima gedeng disebut “angga”.


Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3

Leave a Reply