Kisah Perang Bharatayuda
Dari Mahabaratha
Sumber : Jaman Gemblung
Hari Pertama
Isyarat
peperangan menggema di angkasa. Bersenjatakan lengkap, pasukan Amarta dan
Astina saling membantai.
Bhisma,
sang senopati Astina, menyerang pasukan Amarta. Membinasakan segala yang
merintangi derap keretanya. Menyiksakan hal itu, Abimanyu dan pasukannya
menyerang Bhisma dan para pengawalnya. Namun, serangan mereka sia-sia. Bahkan,
mereka menerima kekalahan.
Dengan
menunggang gajah, Uttara melumpuhkan kereta Salya. Seusai keretanya lumpuh,
Salya meluncurkan lembing. Menembus baju zirah Uttara. Menyaksikan baju zirah
robek, Salya menghujani dada Uttara dengan panah. Arkhian, putra virata itu
gugur di Padang Kurukashetra.
Menyaksikan
Uttara gugur, Sweta menyerang pasukan Astina dengan membabi buta. Memburu
Salya. Karena pasukan tak dapat melindungi Salya, Bhisma turun tangan.
Melepaskan panah saktinya ke dada Sweta. Hingga senopati Amerta itu gugur
seketika.
Kemampuan
pasukan Astina, melalui Bhisma, membuat Yudhistira bimbang atas kejayaan
pasukan Amarta. Namun, rasa bimbang itu mampu ditepisnya Pendawa yang akan
mengenyam kemenangan dalam Bharatayuda.
Hari Kedua
Arjuna bertekad
membalik keadaan hari pertama. Beserta pasukannya, Arjuna menyerang Bhisma.
Namun, pasukan Astina yang melindungi Bhisma memberikan serangan balik pada
Arjuna. Hingga kedua pasukan saling bantai. Sebagian besar pasukan Astina
berjatuhan di tangan Arjuna.
Setelah
menyapu pasukan Astina, Arjuna dan Bhisma saling serang. Sementara, Dronacharya
menyerang dan mematahkan panah-panah Drestadyumna. Menyaksikan keadaan itu,
Bima menyongsong Drestadyumna untuk menyelamatkannya.
Duryodana
mengirim pasukan bantuan dari Kalinga untuk menyerang Bima. Serangan Duryodana
itu dapat dilumpuhkan oleh Bima. Satyaki memanah kusir kereta Bhisma hingga
gugur. Tanpa kusir, kuda yang menarik kereta Bhisma itu menjauhi medan laga.
Dihari kedua, pihak Astina mendapat kekalahan.
Hari Ketiga
Bhisma
memberi perintah pada pasukan Astina untuk membentuk gelar perang Elang dengan
dirinya sebagai panglima di garis depan. Sementara, pasukan Amarta melawannya
dengan gelar perang Bulan Sabit. Dimana Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap
kanan dan kiri. Pasukan Astina menitik beratkan penyerangannya pada Arjuna.
Kereta Arjuna diserbu oleh ribuan panah dan tombak. Dengan kemahirannya, Arjuna
membentengi keretannya dengan arus panah yang tidak terhitung jumlahnya.
Abimanyu
dan Satyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan pasukan Sengkuni dara
Gandara. Bima dan Gatotkaca menyerang Duryodana yang beradakan di barisan belakang.
Panah Bima menukik ke atas kereta Duryodana. Hingga sang kusir yang membawa
kereta itu menjauhi pertempuran. Menyaksikan kejadian itu, Bhisma menyuruh
pasukannya untuk kembali membentuk gelar perang burung elang. Duryodana yang
kembali ke medan laga marah besar pada Bhisma. Panglima itu tampak masih segan
menyerang kestria Pendawa.
Arjuna
dan Kreshna menyerang Bhisma. Arjuna dan Bhisma kemblai terlibat dalam
pertarunga. Menyaksikan Arjuna yang tidak tega melawan kakeknya sendiri,
Kreshna marah. “Aku tidak sabar lagi untuk membunuh Bhisma dengan tanganku
sendiri.”
Sebelum
Kreshna melemparkan senjata cakra ke arah Bhisma, Arjuna dengan cepat
mencegahnya. Meski urung untuk membunuh Bhisma, Kreshna dan Arjuna tetap
melanjutkan pertarungan. Membinasakan banyak pasukan Astina. Mereka berserakan
di medan laga.
Hari Keempat
Bhisma
memerintahkan pasukan Astina untuk bergerak. Abimanyu dikepung dan diserang
oleh pasukan Astina. Menyaksikan keadaan buruk putranya, Arjuna datang
menolong.
Pada saat
genting, Bima membantu menyerang pasukan Astina. Karenanya, Duryodana segera
mengirimkan pasukan gajah ke arahnya, Bima turun dari kereta. Membinsakan satu
per satu pasukan itu dengan gada baja. Membunuh delapan saudara kandung
Duryodana.
Tak terduga
oleh Bima, panah yang dilesatkan oleh kesatria Kurawa membentur dadanya,
melihat tubuh sang ayah tersungkur dikereta, Gatotkaca marah besar. Ia
menyerang pasukan Astina. Dengan cepat, Bhisma menyuruh pasukan Astina mundur. Bila
marah, Gatotkaca tidak mampu dilawan
oleh siapa pun.
Hari Kelima
Pasukan
Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bhisma. Bima berada di garis
depan bersama Srikandi dan Drestadyumna. Satyaki kepayahan saat menghadapi
Drona. Bima meninggalkan Srikandi yang menyerang Bhisma. Karena Srikandi
sebagai senopati wanita, Bhisma menolak untuk bertarung. Ia meninggalkan medan
laga.
Pertempuran
berlanjut antara Satyaki melawan Burisrawa. Menyaksikan nasib buruk yang akan
menimpa Satyaki, Bima melindungi dan menyelamatkan nyawanya. Ditempat lain, Arjuna
membinasakan ribuan tentara Astina yang dikirim oleh Duryodana.
Hari Keenam
Dengan
gelar perang Maskara, Drestadyumna dengan Drupada dan Arjuna berdiri di garis
depan untuk melindungi pasukan Astina pimpinan Balhika yang bergelar perang
Burung Bangau.
Bima
bertarung melawan Drona dengan sengit. Memanah kusir keretanya hingga tewas.
Seusai mengambil alih kedudukan kusirnya, Drona menghancurkan sebagian besar
pasukan Amarta. Serangan Drona itu kemudian ditangkal oleh Drestadyumna.
Bima
melancarkan serangan ke garis pertahanan putra-putra Drestarastra, yaitu
Dursasana, Durwisaha, Dursaha, Durmada, Jaya, Jayasena, Wikarna, Citrasena,
Sudarsana, Carucitra, Duskarna, dan Karna. Menyaksikan Bima dalam bahaya,
Drestadyumna meninggalkan Drona. Membantu Bima.
Yudhistira
mengirim Abimanyu untuk membantu Bima. Melawan para putra Dretarastra.
Sementara, Duryodana dihadapi oleh Pratiwindya, Sutasoma, Srutakarma, Satanika,
dan Srutakirti. Di ambang sore, Bhisma masih mengamuk. Menghancurkan pasukan
Amarta.
Hari Ketujuh
Di bawah
pemerintahan Bhisma, pasukan Astina membentuk gelar perang Mandala. Sementara,
atas kendali Yudhistira, pasukan Amarta membentuk gelar perang Bajra. Arjuna
berhasil memporak-porandakan gelar perang Mandala. Hingga Bhisma menghadapinya.
Drona
bertarung menghadapi Virata. Dengan panahnya, Drona membuat karena Vitara
lumpuh. Virata melompat ke kereta Sangka, putranya. Meskipun mereka telah
menggabungkan kekuatan, tetapi Drona belum terkalahkan. Bahkan, Drona berhasil
melesatkan empat panah yang menembus baju zirah Sangka. Menrenggut nyawanya.
Satyaki
bertarung menghadapi raksaksa Alambusa dan membunuhnya. Dengan tujuh anak
panah, Drestadyumna berhasil melukai tubuh Duryodana. Duryodana meloncat dari
kereta. Ia diselamatkan Sangkuni. Di tempat lain, Bhisma menghancurkan pasukan
Srinjaya.
Hari Kedelapan
Bima
memenggal kepala Sunaba, Adityaketu, Wahwasin, Kundadara, Mahodara, Aparajita,
Panditaka, dan Wasalaka. Setelah menyaksikan kematian Sunaba, adityaketu,
Aparajita, dan Wisalaka, Duryodana memerintahkan pada saudara-saudaranya yang
masih hidup untuk membunuh Bima. Namun, tak seorang pun berani menghadapi Bima.
Didampingi
saudara-saudaranya, Sengkuni menyerbu pasukan Amarta. Beserta pasukannya,
Irawan menghadapi Sangkuni dan saudara-saudaranyadi medan laga. Selain Wresaba,
pasukan Irawan berhasil membunuh saudara-saudara Sangkuni.
Setelah
pasukan Astina yang didampingi oleh Sangkuni kacau balau, Duryodana mengirim
Alambusa untuk membunuh Irawan. Kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara
Irawan dan Alambusa. Keduanya menggunkan kekuatan sihir. Saat Irawan
memunculkan seekor naga raksaksa, Alambusa menanggapinya dengan menjelma
menjadi seekor garuda raksaksa. Garuda itu berhasil membunuh sang naga.
Kekalahan naga itu membuat Irawan terlena. Hingga tak tahu sambaran pedang
Alambusa. Memenggal lehernya.
Hari Kesembilan
Abimanyu
yang mengamuk dapat menghancurkan laskar Astina. Melihat prajuritnya
tercerai-berai, Duryodana memutuskan untuk mengirim Alambus. Ribuan prajurit
Amarta mati ditangan raksaksa itu. Hingga kelima putra Dropadi bertindak.
Namun, mereka gagal menahan serangan Alambusa.
Tak
tega melihat terancaman jiwa saudara-saudara tirinya, Abimanyu datang membantu
untuk menghadapi Alambusa. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit
Abimanyu dengan raksaksa itu. Dengan kemahirannya memanah, Abimanyu berhasil
mengalahkan Alambusa. Hingga raksaksa itu turun dari keretanya. Melarikan diri
dengan luka di tubuhnya.
Setelah
Alambusa mengalami kekalahan, Bhisma menghadapi Abimanyu. Dikawal para kestria
tangguh Astina, Bhisma menerjang Abimanyu. Sementara Arjuna yang membantu
Abimanyu menghadapi Kripta. Satyaki yang datang membantu Arjuna menghadapi
Aswatama. Melihat Aswatama mengalami kekalahan, Drona memberikan bantuan. Namun
Drona tak menghadapi Satyaki, melainkan Arjuna. Keduanya terlibat dalam
pertempuran sengit. Tak ada yang kalah dan tak ada yang menang.
Kresna
mengingatkan Arjuna untuk segera membunuh Bhisma. Karenanya, Arjuna
memerintahkan Kreshna untuk menjalankan keretanya ke arah Bhisma. Saat
menghadapi Bhisma, Arjuna segan untuk mengerahkan seluruh kemmampuannya.
Melihat keadaan itu, Kreshna menjadi marah ia turun dari kereta sambil membawa
cambuk untuk membunuh Bhisma. Bhisma tak mengelak saat melihat tidakan Kreshna.
Bahkan, ia ikhlas apabila nyawanya melayang di tangan titisan Wisnu itu.
Arjuna
meloncat dari kereta. Memeluk kaki Kreshna untuk menahan langkah kakinya ke
arah Bhisma. Kreshna hanya terdiam saat mendengar permohonan Arjuna untuk
tindakan Bhisma. Mereka kembali menaiki keretanya. Melanjutkan peperangan.
Hari Kesepuluh
Pandawa
yang merasa tak mampu menaklukan Bhisma menyusun siasat. Mereka menempatkan
Srikandi yang merupakan titisan Amba di depan kereta Arjuna. Srikandi menyerang
Bhisma tak menghiraukanya. Bahkan, Bhisma justru tertawa karena tahu bahwa
Srikandi adalah pertanda buruk akan takdir kematiannya, Arjuna melepaskan
ribuan panah. Bhisma terjatuh dari kereta. Badanya tak menyentuh tanag karena
ditopang oleh panah-panah yang menancap ditubuhnya.
Seusai
Bhisma terjatuh, pasukan Amarta dan Astina menghentikan pertempuran. Kedua
pasukan itu mengelilingi Bhisma. Kepada Arjuna, Bhisma meminta tiga anak panah
sebagai bantal. Bhisma pun meminta air pada Arjuna. Tanpa berpikir panjang,
Arjuna melepaskan panah ke tanah. Sontak, air memancarkan dari dalam tanah ke
mulut Bhisma.
Meski
tubuhnya penuh dengan tancapan ratusan panah, Bhisma masih bertahan hidup.
Dalam keadaan seperti itu, Bhisma memberi wajengan pada para cucunya yang telah
melakukan peperangan. Di ambang kematianya, Bhisma meyaksikan pertanda
kehancuran Astina.
hari Kesebelas
Bersama
Karna, Duryodana ingin menangkap Yudhistira hidup-hidup. Karenanya, Duryodana
mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi guna melancarkan rencananya.
Mewnyaksikan busur Yudhistira yang dipatahkan oleh Drona, kestria Amarta cemas.
Maka, Arjuna sontak menghujani Drona dengan panah. Hingga gagalah rencana
Duryodana.
Hari Kedua Belas
Susarma sang
Raja Trigarta bersama tiga saudara-saudaranya dan tiga puluh putranya yang
berpihak pada pasukan Astina mencoba membunuh Arjuna. Namun, usaha itu gagal.
Bahkan, pasukan Susarma binasa satu per satu di tangan Arjuna. Semakin hari,
kekuatan pasukan Amarta bertambah. Hingga mampu memberikan pukulan yang besar
pada pasukan Astina.
Hari Ketiga Belas
Duryodana
memanggil Bhgadatta. Raja Pragjyotisha yang memiliki ribuan gajah berukuran
sangat besar sebagai kekuatan pasukannya. Bhagdatta menyerang Arjuna dengan
mengendarai gajah Supratika. Pertempuran antara Arjuna melawan Bhgadatta
terjadi sangat sengit.
Saat
Arjuna sibuk bertarung, empat kestria Pandawa sulit mematahkan gelar perang
Cakrabyuha yang disusun Drona. Karennya, Yudhistira memerintahkan Abimanyu
untuk menghancurkan gelar perang itu. Saat Abimanyu tengah berusaha, empat
kestria Pandawa yang melindunginya dari belakang dihadang oleh Jayadrata. Sang
putra Arjuna terperangkap oleh kestria Kurawa. Dihujuani panah. Gugur di medan
laga.
Menyaksikan
Abimanyu gugur di medan laga, Arjuna bersumpah akan membunuh Jayadrata pada
hari keempat belas. Jika tidak berhasil, maka Arjuna akan membakar dirinya
seusai matahari terbenam.
Hari Keempat Belas
Saat berusaha
mencari jayadrata di medan pertempuran, Arjuna menghancurkan satu aksauhini
(satu pasukan prajurit yang berjumlah 109.350 orang) prajurit Astina.
Di
ambang sore, Arjuna melihat Jayadrata dalam kawalan Karna dan lima kesatria
perkasa lainnya. Melihat keadaan itu, Kreshna mengangkat Cakra untuk menutupi
matahari. Hingga matahari seolah telah terbenam. Saat itu, seluruh prajurit
menghentikan pertempuran dan jayadrata tanpa perlindungan. Saat Kreshna menarik
Cakranya hingga matahari menampakkan sinar terakhirnya, Arjuna melesatkan
panah. Memenggal kelapa Jayadrata.
Pertempuran
berlanjut setelah matahari terbenam. Manakala bulan menampakan sinarnya.
Gatotkaca membunuh banyak kestria Kurawa dari udara. Karna tidak tinggal diam.
Ia melesatkan Indrastra ketubuh Gatotkaca. Sebelum menemui ajalnya, Gatotkaca
memperbesar ukura tubunhya. Gugur dimedan laga dengan menimpa ribuan prajurit
Astina.
Hari Kelima Belas
Seusai
Raja Drupada dan Virata gugur, Bima dan Drestadyumna bertarung dengan Drona.
Namun, keduannya tak mampu melumpuhkan Drona yang memiliki senjata Brahamastra.
Karenanya, Kreshna memberi isyarat pada Yudhistira bahwa Drona akan menyerah
bila Aswatama gugur di medan laga. Menangkap makna isyarat itu, Yudhistira
memerintahkan Bima untuk membunuh gajah Aswatama Hatha Kunjara.
Mendengar
berita kematian Aswatama yang disebar luaskan oleh pasukan Amarta, Drona
menjadi pupus semangat untuk melakukan pertempuran. Ia mengira Aswatama yang
dimaksud adalah putranya. Dengan hati gundah, Drona mendekati Yudhistira
menjawab pertanyaan Drona dengan dua kata terakhir yang melemah : “Ashvathama Hatha
Kunjara....”
Menangkap
jawaban Yudhistira, Drona sangat berduja cita. Manakala Drona menjatuhkan
senjata Brahamastra, Drestadyumna melepaskan panah ke leher Drona. Kepala Drona
menggiling di tanah. Drestadyumna puas. Ia telah memenuhi sumpahnya untuk
membalas kematian sang ayah.
Hari Keenam Belas
Karna
yang menjadi panglima tertinggi pasukan Astina berhasil membunuh banyak
prajurit Amarta.menyaksikan prajurit binasa, Arjuna menghadpi amuk Karna di
medan laga. Namun sial, busur Arjuna patah oleh panah Karna. Sebelum Karna
melepaskan panah di dada Arjuna, matahari terbenam di ufuk barat. Arjuna
diselamatkan sang waktu.
Hari ketujuh Belas
Manakala
Karna melanjutkan pertarungan melawan Arjuna, keretanya terperosok ke dalam
lumpur. Dari peristiwa itulah, Arjuna melesatkan panah ke leher Karna. Kepala
Karna terpenggal. Jatuh ke tanah. Sementara, di tempat lain, Bima membunuh
Dursasana. Maka terpenuhilah janji Bima pada Dropadi yang telah dipermalukan.
Hari Delapan Belas
Matsya yang
diangkat sebagai panglima tertinggi Astina oleh Duryodana gugur di tangan
Yudhistira. Di saat yang sama, Sadewa membunuh Sengkuni. Bima membunuh
saudara-saudara Duryodana yang tersisa.
Menyadari
kubunya telah dapat dihancurkan oleh Amarta, Duryodana lari dari medan
pertempuran. Namun, saat beristirahat di sebuah danau, pasukan Amarta dapat
menangkapnya, kemudian, dibwah kesaksian Baladewa, Duryodana dan Bima baradu
gada. Arkian, Duryodana mengalami kekalahan.
Di
hadapan Duryodana yang tengah sekarat, Aswatama, Kripta, dan Kertawarma
berjanji akan membalas dendamnya kemudian, pada malam harinya mereka menyerang
perkemahan para kestria Amarta dan hasilnya membinasakan Pancawala,
Drestadyumna, dan Srikandi.
Hari Kesembilan Belas (Terakhir)
Aswatama
ditangkap oleh para kestria Pandawa. Kripta kembali ke Astina. Kartawarman
kembali ke Wangsa Yuda. Yudhistira dinobatkan sebagai Raja Astina. Sebelum
menyerahkan kedudukannya pada Parikesit , putra Abimanyu.
Sumber : Jaman Gemblung
Leave a Reply