KABAR

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kisah Perang Bharatayuda

Dari Mahabaratha


Hari Pertama

                Isyarat peperangan menggema di angkasa. Bersenjatakan lengkap, pasukan Amarta dan Astina saling membantai.

                Bhisma, sang senopati Astina, menyerang pasukan Amarta. Membinasakan segala yang merintangi derap keretanya. Menyiksakan hal itu, Abimanyu dan pasukannya menyerang Bhisma dan para pengawalnya. Namun, serangan mereka sia-sia. Bahkan, mereka menerima kekalahan.

                Dengan menunggang gajah, Uttara melumpuhkan kereta Salya. Seusai keretanya lumpuh, Salya meluncurkan lembing. Menembus baju zirah Uttara. Menyaksikan baju zirah robek, Salya menghujani dada Uttara dengan panah. Arkhian, putra virata itu gugur di Padang Kurukashetra.

                Menyaksikan Uttara gugur, Sweta menyerang pasukan Astina dengan membabi buta. Memburu Salya. Karena pasukan tak dapat melindungi Salya, Bhisma turun tangan. Melepaskan panah saktinya ke dada Sweta. Hingga senopati Amerta itu gugur seketika.

                Kemampuan pasukan Astina, melalui Bhisma, membuat Yudhistira bimbang atas kejayaan pasukan Amarta. Namun, rasa bimbang itu mampu ditepisnya Pendawa yang akan mengenyam kemenangan dalam Bharatayuda.

 

Hari Kedua

                Arjuna bertekad membalik keadaan hari pertama. Beserta pasukannya, Arjuna menyerang Bhisma. Namun, pasukan Astina yang melindungi Bhisma memberikan serangan balik pada Arjuna. Hingga kedua pasukan saling bantai. Sebagian besar pasukan Astina berjatuhan di tangan Arjuna.

                Setelah menyapu pasukan Astina, Arjuna dan Bhisma saling serang. Sementara, Dronacharya menyerang dan mematahkan panah-panah Drestadyumna. Menyaksikan keadaan itu, Bima menyongsong Drestadyumna untuk menyelamatkannya.

                Duryodana mengirim pasukan bantuan dari Kalinga untuk menyerang Bima. Serangan Duryodana itu dapat dilumpuhkan oleh Bima. Satyaki memanah kusir kereta Bhisma hingga gugur. Tanpa kusir, kuda yang menarik kereta Bhisma itu menjauhi medan laga. Dihari kedua, pihak Astina mendapat kekalahan.

 

Hari Ketiga

                Bhisma memberi perintah pada pasukan Astina untuk membentuk gelar perang Elang dengan dirinya sebagai panglima di garis depan. Sementara, pasukan Amarta melawannya dengan gelar perang Bulan Sabit. Dimana Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Astina menitik beratkan penyerangannya pada Arjuna. Kereta Arjuna diserbu oleh ribuan panah dan tombak. Dengan kemahirannya, Arjuna membentengi keretannya dengan arus panah yang tidak terhitung jumlahnya.

                Abimanyu dan Satyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan pasukan Sengkuni dara Gandara. Bima dan Gatotkaca menyerang Duryodana yang beradakan di barisan belakang. Panah Bima menukik ke atas kereta Duryodana. Hingga sang kusir yang membawa kereta itu menjauhi pertempuran. Menyaksikan kejadian itu, Bhisma menyuruh pasukannya untuk kembali membentuk gelar perang burung elang. Duryodana yang kembali ke medan laga marah besar pada Bhisma. Panglima itu tampak masih segan menyerang kestria Pendawa.

                Arjuna dan Kreshna menyerang Bhisma. Arjuna dan Bhisma kemblai terlibat dalam pertarunga. Menyaksikan Arjuna yang tidak tega melawan kakeknya sendiri, Kreshna marah. “Aku tidak sabar lagi untuk membunuh Bhisma dengan tanganku sendiri.”

                Sebelum Kreshna melemparkan senjata cakra ke arah Bhisma, Arjuna dengan cepat mencegahnya. Meski urung untuk membunuh Bhisma, Kreshna dan Arjuna tetap melanjutkan pertarungan. Membinasakan banyak pasukan Astina. Mereka berserakan di medan laga.

 

Hari Keempat

Bhisma memerintahkan pasukan Astina untuk bergerak. Abimanyu dikepung dan diserang oleh pasukan Astina. Menyaksikan keadaan buruk putranya, Arjuna datang menolong.

Pada saat genting, Bima membantu menyerang pasukan Astina. Karenanya, Duryodana segera mengirimkan pasukan gajah ke arahnya, Bima turun dari kereta. Membinsakan satu per satu pasukan itu dengan gada baja. Membunuh delapan saudara kandung Duryodana.

Tak terduga oleh Bima, panah yang dilesatkan oleh kesatria Kurawa membentur dadanya, melihat tubuh sang ayah tersungkur dikereta, Gatotkaca marah besar. Ia menyerang pasukan Astina. Dengan cepat, Bhisma menyuruh pasukan Astina mundur. Bila marah, Gatotkaca tidak mampu  dilawan oleh siapa pun.

 

Hari Kelima

                Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bhisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna. Satyaki kepayahan saat menghadapi Drona. Bima meninggalkan Srikandi yang menyerang Bhisma. Karena Srikandi sebagai senopati wanita, Bhisma menolak untuk bertarung. Ia meninggalkan medan laga.

                Pertempuran berlanjut antara Satyaki melawan Burisrawa. Menyaksikan nasib buruk yang akan menimpa Satyaki, Bima melindungi dan menyelamatkan nyawanya. Ditempat lain, Arjuna membinasakan ribuan tentara Astina yang dikirim oleh Duryodana.

 

Hari Keenam

                Dengan gelar perang Maskara, Drestadyumna dengan Drupada dan Arjuna berdiri di garis depan untuk melindungi pasukan Astina pimpinan Balhika yang bergelar perang Burung Bangau.

                Bima bertarung melawan Drona dengan sengit. Memanah kusir keretanya hingga tewas. Seusai mengambil alih kedudukan kusirnya, Drona menghancurkan sebagian besar pasukan Amarta. Serangan Drona itu kemudian ditangkal oleh Drestadyumna.

                Bima melancarkan serangan ke garis pertahanan putra-putra Drestarastra, yaitu Dursasana, Durwisaha, Dursaha, Durmada, Jaya, Jayasena, Wikarna, Citrasena, Sudarsana, Carucitra, Duskarna, dan Karna. Menyaksikan Bima dalam bahaya, Drestadyumna meninggalkan Drona. Membantu Bima.

                Yudhistira mengirim Abimanyu untuk membantu Bima. Melawan para putra Dretarastra. Sementara, Duryodana dihadapi oleh Pratiwindya, Sutasoma, Srutakarma, Satanika, dan Srutakirti. Di ambang sore, Bhisma masih mengamuk. Menghancurkan pasukan Amarta.

 

Hari Ketujuh

Di bawah pemerintahan Bhisma, pasukan Astina membentuk gelar perang Mandala. Sementara, atas kendali Yudhistira, pasukan Amarta membentuk gelar perang Bajra. Arjuna berhasil memporak-porandakan gelar perang Mandala. Hingga Bhisma menghadapinya.

Drona bertarung menghadapi Virata. Dengan panahnya, Drona membuat karena Vitara lumpuh. Virata melompat ke kereta Sangka, putranya. Meskipun mereka telah menggabungkan kekuatan, tetapi Drona belum terkalahkan. Bahkan, Drona berhasil melesatkan empat panah yang menembus baju zirah Sangka. Menrenggut nyawanya.

Satyaki bertarung menghadapi raksaksa Alambusa dan membunuhnya. Dengan tujuh anak panah, Drestadyumna berhasil melukai tubuh Duryodana. Duryodana meloncat dari kereta. Ia diselamatkan Sangkuni. Di tempat lain, Bhisma menghancurkan pasukan Srinjaya.

 

Hari Kedelapan

                Bima memenggal kepala Sunaba, Adityaketu, Wahwasin, Kundadara, Mahodara, Aparajita, Panditaka, dan Wasalaka. Setelah menyaksikan kematian Sunaba, adityaketu, Aparajita, dan Wisalaka, Duryodana memerintahkan pada saudara-saudaranya yang masih hidup untuk membunuh Bima. Namun, tak seorang pun berani menghadapi Bima.

                Didampingi saudara-saudaranya, Sengkuni menyerbu pasukan Amarta. Beserta pasukannya, Irawan menghadapi Sangkuni dan saudara-saudaranyadi medan laga. Selain Wresaba, pasukan Irawan berhasil membunuh saudara-saudara Sangkuni.

                Setelah pasukan Astina yang didampingi oleh Sangkuni kacau balau, Duryodana mengirim Alambusa untuk membunuh Irawan. Kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Irawan dan Alambusa. Keduanya menggunkan kekuatan sihir. Saat Irawan memunculkan seekor naga raksaksa, Alambusa menanggapinya dengan menjelma menjadi seekor garuda raksaksa. Garuda itu berhasil membunuh sang naga. Kekalahan naga itu membuat Irawan terlena. Hingga tak tahu sambaran pedang Alambusa. Memenggal lehernya.

 

Hari Kesembilan

                Abimanyu yang mengamuk dapat menghancurkan laskar Astina. Melihat prajuritnya tercerai-berai, Duryodana memutuskan untuk mengirim Alambus. Ribuan prajurit Amarta mati ditangan raksaksa itu. Hingga kelima putra Dropadi bertindak. Namun, mereka gagal menahan serangan Alambusa.

                Tak tega melihat terancaman jiwa saudara-saudara tirinya, Abimanyu datang membantu untuk menghadapi Alambusa. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit Abimanyu dengan raksaksa itu. Dengan kemahirannya memanah, Abimanyu berhasil mengalahkan Alambusa. Hingga raksaksa itu turun dari keretanya. Melarikan diri dengan luka di tubuhnya.

                Setelah Alambusa mengalami kekalahan, Bhisma menghadapi Abimanyu. Dikawal para kestria tangguh Astina, Bhisma menerjang Abimanyu. Sementara Arjuna yang membantu Abimanyu menghadapi Kripta. Satyaki yang datang membantu Arjuna menghadapi Aswatama. Melihat Aswatama mengalami kekalahan, Drona memberikan bantuan. Namun Drona tak menghadapi Satyaki, melainkan Arjuna. Keduanya terlibat dalam pertempuran sengit. Tak ada yang kalah dan tak ada yang menang.

                Kresna mengingatkan Arjuna untuk segera membunuh Bhisma. Karenanya, Arjuna memerintahkan Kreshna untuk menjalankan keretanya ke arah Bhisma. Saat menghadapi Bhisma, Arjuna segan untuk mengerahkan seluruh kemmampuannya. Melihat keadaan itu, Kreshna menjadi marah ia turun dari kereta sambil membawa cambuk untuk membunuh Bhisma. Bhisma tak mengelak saat melihat tidakan Kreshna. Bahkan, ia ikhlas apabila nyawanya melayang di tangan titisan Wisnu itu.

                Arjuna meloncat dari kereta. Memeluk kaki Kreshna untuk menahan langkah kakinya ke arah Bhisma. Kreshna hanya terdiam saat mendengar permohonan Arjuna untuk tindakan Bhisma. Mereka kembali menaiki keretanya. Melanjutkan peperangan.

 

Hari Kesepuluh

                Pandawa yang merasa tak mampu menaklukan Bhisma menyusun siasat. Mereka menempatkan Srikandi yang merupakan titisan Amba di depan kereta Arjuna. Srikandi menyerang Bhisma tak menghiraukanya. Bahkan, Bhisma justru tertawa karena tahu bahwa Srikandi adalah pertanda buruk akan takdir kematiannya, Arjuna melepaskan ribuan panah. Bhisma terjatuh dari kereta. Badanya tak menyentuh tanag karena ditopang oleh panah-panah yang menancap ditubuhnya.

                Seusai Bhisma terjatuh, pasukan Amarta dan Astina menghentikan pertempuran. Kedua pasukan itu mengelilingi Bhisma. Kepada Arjuna, Bhisma meminta tiga anak panah sebagai bantal. Bhisma pun meminta air pada Arjuna. Tanpa berpikir panjang, Arjuna melepaskan panah ke tanah. Sontak, air memancarkan dari dalam tanah ke mulut Bhisma.

                Meski tubuhnya penuh dengan tancapan ratusan panah, Bhisma masih bertahan hidup. Dalam keadaan seperti itu, Bhisma memberi wajengan pada para cucunya yang telah melakukan peperangan. Di ambang kematianya, Bhisma meyaksikan pertanda kehancuran Astina.

 

hari Kesebelas

                Bersama Karna, Duryodana ingin menangkap Yudhistira hidup-hidup. Karenanya, Duryodana mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi guna melancarkan rencananya. Mewnyaksikan busur Yudhistira yang dipatahkan oleh Drona, kestria Amarta cemas. Maka, Arjuna sontak menghujani Drona dengan panah. Hingga gagalah rencana Duryodana.

 

Hari Kedua Belas

Susarma sang Raja Trigarta bersama tiga saudara-saudaranya dan tiga puluh putranya yang berpihak pada pasukan Astina mencoba membunuh Arjuna. Namun, usaha itu gagal. Bahkan, pasukan Susarma binasa satu per satu di tangan Arjuna. Semakin hari, kekuatan pasukan Amarta bertambah. Hingga mampu memberikan pukulan yang besar pada pasukan Astina.

 

Hari Ketiga Belas

Duryodana memanggil Bhgadatta. Raja Pragjyotisha yang memiliki ribuan gajah berukuran sangat besar sebagai kekuatan pasukannya. Bhagdatta menyerang Arjuna dengan mengendarai gajah Supratika. Pertempuran antara Arjuna melawan Bhgadatta terjadi sangat sengit.

                Saat Arjuna sibuk bertarung, empat kestria Pandawa sulit mematahkan gelar perang Cakrabyuha yang disusun Drona. Karennya, Yudhistira memerintahkan Abimanyu untuk menghancurkan gelar perang itu. Saat Abimanyu tengah berusaha, empat kestria Pandawa yang melindunginya dari belakang dihadang oleh Jayadrata. Sang putra Arjuna terperangkap oleh kestria Kurawa. Dihujuani panah. Gugur di medan laga.

                Menyaksikan Abimanyu gugur di medan laga, Arjuna bersumpah akan membunuh Jayadrata pada hari keempat belas. Jika tidak berhasil, maka Arjuna akan membakar dirinya seusai matahari terbenam.

 

Hari Keempat Belas

Saat berusaha mencari jayadrata di medan pertempuran, Arjuna menghancurkan satu aksauhini (satu pasukan prajurit yang berjumlah 109.350 orang) prajurit Astina.

                Di ambang sore, Arjuna melihat Jayadrata dalam kawalan Karna dan lima kesatria perkasa lainnya. Melihat keadaan itu, Kreshna mengangkat Cakra untuk menutupi matahari. Hingga matahari seolah telah terbenam. Saat itu, seluruh prajurit menghentikan pertempuran dan jayadrata tanpa perlindungan. Saat Kreshna menarik Cakranya hingga matahari menampakkan sinar terakhirnya, Arjuna melesatkan panah. Memenggal kelapa Jayadrata.

                Pertempuran berlanjut setelah matahari terbenam. Manakala bulan menampakan sinarnya. Gatotkaca membunuh banyak kestria Kurawa dari udara. Karna tidak tinggal diam. Ia melesatkan Indrastra ketubuh Gatotkaca. Sebelum menemui ajalnya, Gatotkaca memperbesar ukura tubunhya. Gugur dimedan laga dengan menimpa ribuan prajurit Astina.

 

Hari Kelima Belas

                Seusai Raja Drupada dan Virata gugur, Bima dan Drestadyumna bertarung dengan Drona. Namun, keduannya tak mampu melumpuhkan Drona yang memiliki senjata Brahamastra. Karenanya, Kreshna memberi isyarat pada Yudhistira bahwa Drona akan menyerah bila Aswatama gugur di medan laga. Menangkap makna isyarat itu, Yudhistira memerintahkan Bima untuk membunuh gajah Aswatama Hatha Kunjara.

                Mendengar berita kematian Aswatama yang disebar luaskan oleh pasukan Amarta, Drona menjadi pupus semangat untuk melakukan pertempuran. Ia mengira Aswatama yang dimaksud adalah putranya. Dengan hati gundah, Drona mendekati Yudhistira menjawab pertanyaan Drona dengan dua kata terakhir yang melemah : “Ashvathama Hatha Kunjara....”

                Menangkap jawaban Yudhistira, Drona sangat berduja cita. Manakala Drona menjatuhkan senjata Brahamastra, Drestadyumna melepaskan panah ke leher Drona. Kepala Drona menggiling di tanah. Drestadyumna puas. Ia telah memenuhi sumpahnya untuk membalas kematian sang ayah.

 

Hari Keenam Belas

                Karna yang menjadi panglima tertinggi pasukan Astina berhasil membunuh banyak prajurit Amarta.menyaksikan prajurit binasa, Arjuna menghadpi amuk Karna di medan laga. Namun sial, busur Arjuna patah oleh panah Karna. Sebelum Karna melepaskan panah di dada Arjuna, matahari terbenam di ufuk barat. Arjuna diselamatkan sang waktu.

 

Hari ketujuh Belas

                Manakala Karna melanjutkan pertarungan melawan Arjuna, keretanya terperosok ke dalam lumpur. Dari peristiwa itulah, Arjuna melesatkan panah ke leher Karna. Kepala Karna terpenggal. Jatuh ke tanah. Sementara, di tempat lain, Bima membunuh Dursasana. Maka terpenuhilah janji Bima pada Dropadi yang telah dipermalukan.

 

Hari Delapan Belas

Matsya yang diangkat sebagai panglima tertinggi Astina oleh Duryodana gugur di tangan Yudhistira. Di saat yang sama, Sadewa membunuh Sengkuni. Bima membunuh saudara-saudara Duryodana yang tersisa.

                Menyadari kubunya telah dapat dihancurkan oleh Amarta, Duryodana lari dari medan pertempuran. Namun, saat beristirahat di sebuah danau, pasukan Amarta dapat menangkapnya, kemudian, dibwah kesaksian Baladewa, Duryodana dan Bima baradu gada. Arkian, Duryodana mengalami kekalahan.

                Di hadapan Duryodana yang tengah sekarat, Aswatama, Kripta, dan Kertawarma berjanji akan membalas dendamnya kemudian, pada malam harinya mereka menyerang perkemahan para kestria Amarta dan hasilnya membinasakan Pancawala, Drestadyumna, dan Srikandi.

 

Hari Kesembilan Belas (Terakhir)

                Aswatama ditangkap oleh para kestria Pandawa. Kripta kembali ke Astina. Kartawarman kembali ke Wangsa Yuda. Yudhistira dinobatkan sebagai Raja Astina. Sebelum menyerahkan kedudukannya pada Parikesit , putra Abimanyu.


Sumber : Jaman Gemblung

Leave a Reply