KABAR

Sabtu, 25 Oktober 2014

AGAMA


Sebelum agama Islam masuk ke Indramayu, rakyat Indramayu beragama Hindu atau Budha.

Kepercayaan Agama Hindu ialah berintikan kepada “Tuhan Trimurti”, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa dengan sistim kastanya yang terkenal, yaitu Brahmana, Kestria, Wesya dan Paria. Sedangkan agama Budha berintikan kepada kepercayaan bahwasanya hidup ini “samsara”, yakni kepedihan dan penderitaan. Asal samsara ialah dari mula jadinya manusia harus melalui jalan itu baik dalam hidupnya yang sekarang, maupun dalam hidupnya sebagai penjelmaan (reincarnasi). Kebenaran mengatasi samsara itu harus melenyapkan hawanapsu. Jalan yang harus ditempuh dalam penghidupan ialah delapan asta atau yang lebih dikenal dengan nama “asta sila”, yaitu 1. Keyakinan yang lurus, 2. Kemauan yang lurus, 3. Berbicara yang lurus, 4. Perbuatan yang lurus, 5. Hidup yang lurus, 6. Ingatan yang lurus, 7. Pikiran yang lurus, 8. Semadi, adalah jalan yang terpendek untuk mengatasi “samsara”.

                Sebelum kedatangan agama Hindu penduduk Indramayu menganut kepercayaan “animisme” dan “dynamisme” yang berintikan kepada arwah para leluhur.

                Meskipun sudah beberapa kali terjadi pertukaran agama yang satu pada yang lain, namun sisa-sisa kepercayaan yang sudah lebih dahulu menjadi tradisi dalam kehidupan penduduk, masih senantiasa berpengaruh terhadap tata hidup keagamaan serta kebudayaan rakyat di Indramayu, misalnya kebudayaan fetisjisme yang berintikan pemujaan terhadap benda-benda tertentu yang dianggap berisi “semangat”, sepereti batu, keris dan sebagainya.

                Akulturasi berbagai kepercaaan dan kebudayaan itu menjelma dalam bentuk agama Sunda-Hindu dan Sunda-Budha. Dengan demikian maka sistim religie di Indramayu pada masa yang silam menyebabkan adanya Brahmana, Wiku dan Pendeta dari berbagai kepercayaan itu.

                Secara keseluruhan sumber Portugis menerangkan bahwa pada awal abad XVI M penduduk Jawa Barat (Sunda) banyak yang memelihara candi untuk memuja para dewa. Para wanitanya serba elok, yang termasuk golongan bangsawan berkelakuan baik dan menjaga benar-benar kehormatan mereka, kaum wanita dari kalangan bangsawan apabila tidak berhasil dikawinkan dengan pria idaman orang tua mereka, untuk menjaga nama baiknya dimasukan kedalam mandala khusus untuk kaum wanita (menjadi wiku wanita). Apabila suami mereka meninggal, para isteri kaumbangsawan biasanya ikut mati sebagai bela.

                Dalam dialek Indramayu bela didesa disebut “Lebu”. Bagaimana sejarah kata “lebu” itu kurang begitu jelas, namun tidak mustahil kalau ada kaitanya dengan kepercayaan rakyat.

                “Lebu” = debu atau abu, jadi “palebon” =”perubahan”, yaitu tempat penyimpanan abu jenazah sesudah dibakar menurut kepercayaan agamanya. Berhubung dengan itu maka “lebu” yang sekarang menjadi balai desa itu dahulunya adalah bangunan tempat penyimpanan abu jenazah.

                Upacara “ngunjung” (ziarah ke kuburan disertai selamatan) yang masih merupakan tradisi beberapa tempat di Indramayu adalah juga menifestasi dari peninggalan kepercayaan masa lalu yang survive dan telah berubah menjadi upacara tradisionil yang pantang surut. Dahulu kala upacara ngunjung disebut “srada” dan biasanya dilakukan pada bulan Rowah, (Rowah berasal dari kata roh atau arwah). Dikuburan diadakan selametan yang diramalkan dengan aneka macam tontonan, topeng, wayang, dan sebagainy, kemudian pada saat selamatan dihidangkan, lebih dahulu dibacakan “mantra” oleh seorang wiku, lalu diperciki dengan air kembang disebut “Toya-Tirta”.
                Manakala agama Islam datang, upacara tradisonil semacam itu dibiarkan berjalan terus, hanya mantranya diganti dengan “Kalimah-Toyibah” (Laa Ilaaha Illallah) dan tontonan berangsur-angsur dihilangkan (tidak dikuburan tetapi di bale-desa).

Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3

Leave a Reply