AGAMA
Sebelum agama Islam masuk ke
Indramayu, rakyat Indramayu beragama Hindu atau Budha.
Kepercayaan Agama Hindu ialah
berintikan kepada “Tuhan Trimurti”, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa dengan sistim
kastanya yang terkenal, yaitu Brahmana, Kestria, Wesya dan Paria. Sedangkan
agama Budha berintikan kepada kepercayaan bahwasanya hidup ini “samsara”, yakni
kepedihan dan penderitaan. Asal samsara ialah dari mula jadinya manusia harus
melalui jalan itu baik dalam hidupnya yang sekarang, maupun dalam hidupnya sebagai
penjelmaan (reincarnasi). Kebenaran mengatasi samsara itu harus melenyapkan
hawanapsu. Jalan yang harus ditempuh dalam penghidupan ialah delapan asta atau
yang lebih dikenal dengan nama “asta sila”, yaitu 1. Keyakinan yang lurus, 2.
Kemauan yang lurus, 3. Berbicara yang lurus, 4. Perbuatan yang lurus, 5. Hidup
yang lurus, 6. Ingatan yang lurus, 7. Pikiran yang lurus, 8. Semadi, adalah
jalan yang terpendek untuk mengatasi “samsara”.
Sebelum
kedatangan agama Hindu penduduk Indramayu menganut kepercayaan “animisme” dan
“dynamisme” yang berintikan kepada arwah para leluhur.
Meskipun
sudah beberapa kali terjadi pertukaran agama yang satu pada yang lain, namun
sisa-sisa kepercayaan yang sudah lebih dahulu menjadi tradisi dalam kehidupan
penduduk, masih senantiasa berpengaruh terhadap tata hidup keagamaan serta
kebudayaan rakyat di Indramayu, misalnya kebudayaan fetisjisme yang berintikan
pemujaan terhadap benda-benda tertentu yang dianggap berisi “semangat”,
sepereti batu, keris dan sebagainya.
Akulturasi
berbagai kepercaaan dan kebudayaan itu menjelma dalam bentuk agama Sunda-Hindu
dan Sunda-Budha. Dengan demikian maka sistim religie di Indramayu pada masa
yang silam menyebabkan adanya Brahmana, Wiku dan Pendeta dari berbagai
kepercayaan itu.
Secara
keseluruhan sumber Portugis menerangkan bahwa pada awal abad XVI M penduduk
Jawa Barat (Sunda) banyak yang memelihara candi untuk memuja para dewa. Para
wanitanya serba elok, yang termasuk golongan bangsawan berkelakuan baik dan
menjaga benar-benar kehormatan mereka, kaum wanita dari kalangan bangsawan
apabila tidak berhasil dikawinkan dengan pria idaman orang tua mereka, untuk
menjaga nama baiknya dimasukan kedalam mandala khusus untuk kaum wanita
(menjadi wiku wanita). Apabila suami mereka meninggal, para isteri
kaumbangsawan biasanya ikut mati sebagai bela.
Dalam
dialek Indramayu bela didesa disebut “Lebu”. Bagaimana sejarah kata “lebu” itu
kurang begitu jelas, namun tidak mustahil kalau ada kaitanya dengan kepercayaan
rakyat.
“Lebu”
= debu atau abu, jadi “palebon” =”perubahan”, yaitu tempat penyimpanan abu
jenazah sesudah dibakar menurut kepercayaan agamanya. Berhubung dengan itu maka
“lebu” yang sekarang menjadi balai desa itu dahulunya adalah bangunan tempat
penyimpanan abu jenazah.
Upacara
“ngunjung” (ziarah ke kuburan disertai selamatan) yang masih merupakan tradisi
beberapa tempat di Indramayu adalah juga menifestasi dari peninggalan
kepercayaan masa lalu yang survive dan telah berubah menjadi upacara
tradisionil yang pantang surut. Dahulu kala upacara ngunjung disebut “srada”
dan biasanya dilakukan pada bulan Rowah, (Rowah berasal dari kata roh atau
arwah). Dikuburan diadakan selametan yang diramalkan dengan aneka macam
tontonan, topeng, wayang, dan sebagainy, kemudian pada saat selamatan
dihidangkan, lebih dahulu dibacakan “mantra” oleh seorang wiku, lalu diperciki
dengan air kembang disebut “Toya-Tirta”.
Manakala
agama Islam datang, upacara tradisonil semacam itu dibiarkan berjalan terus,
hanya mantranya diganti dengan “Kalimah-Toyibah” (Laa Ilaaha Illallah) dan
tontonan berangsur-angsur dihilangkan (tidak dikuburan tetapi di bale-desa).Sumber : Sejarah Indramayu Cetakan 3
Leave a Reply