KABAR

Kamis, 04 Oktober 2012

Gunung Jati

Babad Cirebon

Awal cerita.......

Walangsungsang mohon pamit hendak meneruskan mencari agama Islam sarengat jeng Nabi Muhammad. Ki pendeta berkata,"Hai putra, datanglah digunung Jati, Syekh Nurjati namanya, asal dari Mekah, yang sedang bertapa tidur, dailah yang empunya agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad."

Walangsungsang langsung pamit menuju Gunung Jati, datang sudah dihadapan Syekh Nurjati. Sang istri dan sang adik lalu dikeluarkan dari cincin Ampal disuruh sujud menghaturkan hormat. Ki Syekh Nurjati segera terjaga melihat tiga orang tamu. sambil senyum ia berkata, "Hai tiga orang muda dihadapanku dengan memberi hormat, apa kemauan kalian, asal dari mana, nama kalian siapa?" Berkata Walangsungsang, "Hamba hendak berguru agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad, bersama adik kandung hama Rarasantang, putri Pajajaran, adipun istri hamba Indangayu namanya, putri gunung Maraapi Sanghyang Danuwarsih, hamba bernama Walangsungsang. "Syekh Nurjati berkata, "Bagaimana mulanya orang budha dan putra Raja menghendaki Islam dan dapat petunjuk dari siapa tahu kepada gunung Jati?" Walangsungsang menceritakan sesunggunya lantaran mau Islam dari awal hingga akhir. Ki Syekh segera memberi wajengan kepada ketiganya mengucap kalimat dua syahadat, salawat dan dhikir, jakat fitrah, dan naik haji, puasa bulan Ramadhon, salat lima waktu dan diwajeng Qur'an, kitab Fikih dan Tasawuf, sudah dipatuhi semua apa yang diwajengkan dan diperintahkan oleh guru. Walangsungsang, Indangayu, Rarasantang sudah lama olehnya berguru, suhud sekali, tetap patuh kepada Guru. Ki Syekh memanggil, "Walangsungsang, engkau aku berinama Somadullah."

Selanjutnya......
Kebon Pesisir Lemahwunguk



P.S. Sulendraningrat

Leave a Reply