KABAR

Kamis, 04 Oktober 2012

Gunung Cangak

Babad Cirebon

Sanghyang Naga berkata, "Engkau sekarang pergi bergurulah ke gunung Cangak, disitu engkau akan dapat petunjuk perihal agama islam, namun diakali dulu Ratunya Bangagu hingga sampai tertangkap. "setelah sebulan lamanya Walangsungsang mohon pamit segera menuju ke Gunung Cangak.

Diceritakan yang berada digunung Cangak dipohon beringin besar rombongan burung - burung bangau banyak sekali berhinggap Walangsungsang terheran - heran melihat sedemikian banyak burung - burung bangau berseliweran dan bingung yang mana jadi ratunya. Segera ia memakai paci waring dan mengeluarkan sebuah wadah yang berisi ikan deleg diletakan dipohon. Karena ampuhnya aji panurutan Sang Nata bangau segera turun, bertubuh lebih besar dari sesama burung bangau. Ikan deleg didalam wadah/perangkap lalu dipatuknya. Cepat Walangsungsang menangkap leher Sang Nata bangau sambil diancam dengan golok cabang diatas lehernya. Sang Nata bangau berteriak tolong - tolong minta hidup. Ia berkata, "hai manusia anda orang punjul, biarkanlah aku hidup, nanti anda aku beri pusaka warna tiga, panjang, pendil, bareng/bende." Lalu Sang Nata bangau dilepaskan, lalu ia terbang sambil berkata, "Hai manusia susulah aku dipuncak gunung ini yang ada dipohon beringin."
Walangsungsang segera menyusul, Sang Nata bangau lenyap setelah datang dipohon beringin dipuncak gunung itu, Walangsungsang kebingungan. Tak lama kemudian hilanglah ujud pohon beringin itu salin rupa menjadi sebuah kraton indah sekali.

Walangsungsang sedang melongo keheranan melihat ada kraton, tak lama kemudian lalu ada 40 orang anak - anak bule menghidangkan jamuan sambil menyilahkan duduk disebuah permadi emas.

Walangsungsang sedangnya enak duduk sambil makan minum tak lama kemudian datanglah Sang pendeta Luhur duduk sejajar.

Walangsungsang berkata,"Hai pendeta, anda siapa yang bertamu dihadapan menjadikan terkejutnya hatiku?" Ki pendeta menjawab, "Sanghyang bangau namaku yang membangun kayuwangan digunung Cangak, fardhu memenuhi janji memasrahan jimat pusaka yang warna tiga, ialah panjang, pendil dan bareng/bende. Piring panjang berwatak  tidak berisi lagi lalu mengisi sendiri lengkap segela - galanya, nasi kuning, lauk pauk selalabnya dan sejuk pribawanya kepada kawula warga, cukup sandang, pangan , papan. Pendil berwatak kalau dikeruk nasinya bisa untuk memberi makan dua tiga negara. Bareng/bende wataknya keluar air banjir, suaranya membingungkan musuh." Diterima sudah jimat yang warna tiga. Walangsungsang mengucap terima kasih dan berguru kepada Ki Pendeta sebulan lamanya.


Gunung Jati
http://drackrahmat.blogspot.com/2012/10/gunung-jati.html
 

Leave a Reply