PELANJUTAN KETURUNAN RASUL ALLAH S.A.W
Sabda Rasul Allah s.aw: ‘wahai fatimah, sesungguhnya Allah
marah dengan kemarahanmu, dan ia ridla dengan kerinduanmu”.
Lima
tahun sebelum ke-Nabia-Nya, maka Muhammad s.a.w berkata kepada isterinya, Sitti
Khadijah, yang sedang mengandung tua : “wahai Khadijah, malaikat Jibril telah
datang dan memberitahukan kepadaku, bahwa anak yang kau kandung ini kelak akan
lahir sebagai seorang perempuan. Ia adalah suatu jiwa yang suci dan dilindungi
Allah s.w.t. dan bahwa Allah kelak akan
menjadikan anak perempuan kita ini, keturunanku”. (Ahlul bait hal.115)
Ucapan
Muhammad s.a.w. itu dikatakan lima tahun sebelum ia mendapatkan wahyu di gua
Hira, dekat Mekah, ketika jasirah Arab masih diliputi oleh suatu kehidupan yang
bersuasanakan kejahiliyahan. Dan ketika lebih kurang sebulan kemudian Fatimah
lahir dalam keadaan suci serta Muhammad s.a.w. untuk menyatakan syukur kepada
Allah s.w.t. yang telah melahirkan seorang makhluk yang akan menjadi benih
daripada keturunannya.
Sitti
Fatimah adalah puteri paling kecil dari junjungan kita Rasul Allah s.a.w. yang
paling dikasihinya yang lahir pada tanggal 20 Jumadilakhir, lima tahun sebelum
Muhammad s.a.w. mendapat wahyu di gua Hira yang menandai awal dari pada
kehidupannya sebagai Nabi.
Tanpa
kelahiran Sitti Fatimah, maka nabi jungjungan kita itu akan putus . Karena itu
kelahiran Sitti Fattimah adalah suatu kelimpahan allah yang terbesar. Sitti
fatimah telah dijadikan oleh wadah yang suci dari keturunan yang suci. Ia
laksana benih yang menumbuhkan pohon besar dan pelanjut para keturunan para
Syarif dari ahlul bait, yaitu keluarga dari pada Rasul Allah s.a.w tigabelas
abad lebih lebih yang lalu hingga sekarang ini.
Sitti
Fatimah-lah yang jadi satu-satunya sumber dari pada suatu keturunan yang mulia
yang dikenal bangsa Arab dan kemudian seluruh Umat Islam didunia dari dulu
hingga sekarang.
Leave a Reply