KABAR

Sabtu, 29 September 2012

Gunung Meraapi


Babad Cirebon

Diceritakan Pangeran Walangsungsang telah datang dikaki gunung Meraapi ( di Rajadesa, Ciamis Timur ) sedang tafakur, tak lama kemudian datanglah Sanghyang Danuwarsih, datang sudah di hadapanya. Sang Danuwarsih berkata, “Hai siapa engkau, putra mana dan apa yang dikehendaki ?” Walangsung berkata, “ Walangsungsang namanya. Putra dari raja Pajajaran yang beribu Ratu Subanglarang, yang hendak berguru agama Islam, “Berkata Sang Danuwarsih,” Baik sekarang turutlah dengan si Rama di puncak gunung Meraapi, niscahya bertemu dengan jodoh engkau. “Walangsungsang mematuhi. Segara turut bersama menuju kayuangannya Sang Danuwarsih, datang sudah mereka berdua dipuncaknya gunung Maraapi.

Sang Danuawarsih berkata, “Hai putriku, nini Indangayu, sekarang lekas bikin jamuan, jodoh engkau sudah datang. “Nyi Mas Indangayu telah menghidangkan jamuan. Ayahnya bersuka cita. Segera ditari/didamai,  “Hai Walangsungsang Indangayu, sekarang aku kawinkan kamu berdua jadi satu, karena tidak lain sama trah ( turunan ) dari Galuh,” Sang putra berdua menyetujui. Segera telah kawin tetep catap ( syah ) perkawinannya bertahun 1442 M. Jeng Pangeran Walangsungsang pada waktu itu berusia 23 tahun.

Diceritakan Ratu Mas Rarasantang yang sedang dalam perjalanan berada digunung Tangkuban Prahu kelelahan beristirahat dibawah pohon beringin dengan menggosok kakinya yang pada bengkak, pakaianya cabik – cabik. Ia menangis sambil menyebut – nyebut nama abangnya.tak lama kemudian datangnya Nyi Indang Suketi datang sudah dihadapanya. Nyi Indang berkata, “Hai bayi, engkau siapa dan apa yang kau cari sendirian berada disini tanpa kawan?” Sang Dewi Rarasantang menjawab, “Eyang, hamba sesungguhnya putri pejajaran dari Subanglarang, Rarasantang nama hamba, yang dituju menuju saudara tua Walangsungsang, mohon pertolongan eyang, semoga lekas bertemu.” Nyi Indang Suketi merasa kasihan, “duhai bayi, terimalah baju Sang Dewa mulia, berwatak cepat berjalan seperti angin dan tidak panas didalam api dan basah didalam air, rahayu dari bahaya.” Segera sudah dipakai baju siDewa mulia, sang putri mengucapkan terimaksih dan memohon petunjuk kakaknya ada dimana. Berkata Nyi Indang Sukati, “Engkau datanglah terlebih dahulu digunung Liwung, temuilah Ajar Sakti disitulah dapat petunjuk. Segera sang Dewi menyembah pamit, terlaksana dengan sebentar sang putri telah datang digunung Liwung dihadapan KI Ajar Sakti, menyungkem : kakinya sambil meohon petunjuk kakaknya ada dimana. Ki Ajar waspada penglihatanya mengetahui maksud sang putri ia berkata, “Bayi, kakak engkau, Walangsungsang sudah punya istri. Indangayu namanya, putri Sanghyang Danuwarsih yang berada digunung Maraapi, baik engkau menyusul kesana dan aku memberi engkau nama Ratnaeling, kelak dipastikan mempunyai putra lelaki yang punjul sebuana.” Si putri mengucap terimakasih, segera pamit, terus berjalan menuju pusatnya gunung Maraapi bahkan sebentar sudah datang.

Syahdan Pangeran Walangsungsang yang sedang tapakur dihadapan sang Daniwarsih. Berkata sang Daniwarsih, “Hai putraku Walangsungsang terimalah cincin pusaka turunan dari dipati Suryalaga sama turuanan engkau. Ini wataknya cincin ampal kalau diterawangkan tau isinya jagat bumi tujuh langit tujuh bisa terlihat didalam cincin ampal dapat memuat laut dan gunung. Bisa untuk sebanyak simpanan, terkabul yang dikehendaki namun agama Islam si Rama tidak bisa kelak seantara lagi engkau tahu, hanya ini terimalah aji-aji dan kemenyan ( melumpuhkan ) pegambaran ( menurut ) dan pengasihan ( bekasih ). “Walangsungsang mengucapkan terimaksih sambil menerima pemberian Sang Ayahanda.
Sedangnya mereka berkumpul tak lama kemudian datanglah Sang Dewi Rarasantang bertemu rangkul merangkul kakaknya,”berkata Walangsungsang sambil menangis,” Duhai bayin adiku, sungguh bahagia engkau masih bisa bertemu si kakak, apa sebabnya engkau menyusul, tidakah engkau lebih senang didalam keraton, dan engkau dapat petunjuk jalan dari siapa ?” Rarasantang berkata sambil mengasih perihal perjalananya dari awal hingga akhir. Sedangnya mereka berdua bercakap – cakap sang Danuwarsih mendekati dan berkata. “Hai putraku, itu bayi perempuan siapa berangkulan bertangisan ?“ menjawab sang putra , “ sungguh sudari kandung hamba seayag seibu, Rarasantang namanya.” Segera Nyi Indangayu merangkul adik iparnya.


Gunung Ciangkup
http://drackrahmat.blogspot.com/2012/10/gunung-ciangkup.html
 

Leave a Reply