Gunung Meraapi
Babad Cirebon
Diceritakan Pangeran Walangsungsang telah datang dikaki
gunung Meraapi ( di Rajadesa, Ciamis Timur ) sedang tafakur, tak lama kemudian
datanglah Sanghyang Danuwarsih, datang sudah di hadapanya. Sang Danuwarsih
berkata, “Hai siapa engkau, putra mana dan apa yang dikehendaki ?” Walangsung
berkata, “ Walangsungsang namanya. Putra dari raja Pajajaran yang beribu Ratu
Subanglarang, yang hendak berguru agama Islam, “Berkata Sang Danuwarsih,” Baik
sekarang turutlah dengan si Rama di puncak gunung Meraapi, niscahya bertemu
dengan jodoh engkau. “Walangsungsang mematuhi. Segara turut bersama menuju kayuangannya
Sang Danuwarsih, datang sudah mereka berdua dipuncaknya gunung Maraapi.
Sang Danuawarsih berkata, “Hai putriku, nini Indangayu,
sekarang lekas bikin jamuan, jodoh engkau sudah datang. “Nyi Mas Indangayu
telah menghidangkan jamuan. Ayahnya bersuka cita. Segera ditari/didamai, “Hai Walangsungsang Indangayu, sekarang aku
kawinkan kamu berdua jadi satu, karena tidak lain sama trah ( turunan ) dari
Galuh,” Sang putra berdua menyetujui. Segera telah kawin tetep catap ( syah )
perkawinannya bertahun 1442 M. Jeng Pangeran Walangsungsang pada waktu itu
berusia 23 tahun.
Diceritakan Ratu Mas Rarasantang yang sedang dalam
perjalanan berada digunung Tangkuban Prahu kelelahan beristirahat dibawah pohon
beringin dengan menggosok kakinya yang pada bengkak, pakaianya cabik – cabik.
Ia menangis sambil menyebut – nyebut nama abangnya.tak lama kemudian datangnya
Nyi Indang Suketi datang sudah dihadapanya. Nyi Indang berkata, “Hai bayi,
engkau siapa dan apa yang kau cari sendirian berada disini tanpa kawan?” Sang
Dewi Rarasantang menjawab, “Eyang, hamba sesungguhnya putri pejajaran dari
Subanglarang, Rarasantang nama hamba, yang dituju menuju saudara tua
Walangsungsang, mohon pertolongan eyang, semoga lekas bertemu.” Nyi Indang
Suketi merasa kasihan, “duhai bayi, terimalah baju Sang Dewa mulia, berwatak
cepat berjalan seperti angin dan tidak panas didalam api dan basah didalam air,
rahayu dari bahaya.” Segera sudah dipakai baju siDewa mulia, sang putri
mengucapkan terimaksih dan memohon petunjuk kakaknya ada dimana. Berkata Nyi
Indang Sukati, “Engkau datanglah terlebih dahulu digunung Liwung, temuilah Ajar
Sakti disitulah dapat petunjuk. Segera sang Dewi menyembah pamit, terlaksana
dengan sebentar sang putri telah datang digunung Liwung dihadapan KI Ajar
Sakti, menyungkem : kakinya sambil meohon petunjuk kakaknya ada dimana. Ki Ajar
waspada penglihatanya mengetahui maksud sang putri ia berkata, “Bayi, kakak
engkau, Walangsungsang sudah punya istri. Indangayu namanya, putri Sanghyang
Danuwarsih yang berada digunung Maraapi, baik engkau menyusul kesana dan aku
memberi engkau nama Ratnaeling, kelak dipastikan mempunyai putra lelaki yang
punjul sebuana.” Si putri mengucap terimakasih, segera pamit, terus berjalan
menuju pusatnya gunung Maraapi bahkan sebentar sudah datang.
Syahdan Pangeran Walangsungsang yang sedang tapakur
dihadapan sang Daniwarsih. Berkata sang Daniwarsih, “Hai putraku Walangsungsang
terimalah cincin pusaka turunan dari dipati Suryalaga sama turuanan engkau. Ini
wataknya cincin ampal kalau diterawangkan tau isinya jagat bumi tujuh langit
tujuh bisa terlihat didalam cincin ampal dapat memuat laut dan gunung. Bisa
untuk sebanyak simpanan, terkabul yang dikehendaki namun agama Islam si Rama
tidak bisa kelak seantara lagi engkau tahu, hanya ini terimalah aji-aji dan
kemenyan ( melumpuhkan ) pegambaran ( menurut ) dan pengasihan ( bekasih ).
“Walangsungsang mengucapkan terimaksih sambil menerima pemberian Sang Ayahanda.
Sedangnya mereka berkumpul tak lama kemudian datanglah Sang
Dewi Rarasantang bertemu rangkul merangkul kakaknya,”berkata Walangsungsang
sambil menangis,” Duhai bayin adiku, sungguh bahagia engkau masih bisa bertemu
si kakak, apa sebabnya engkau menyusul, tidakah engkau lebih senang didalam
keraton, dan engkau dapat petunjuk jalan dari siapa ?” Rarasantang berkata
sambil mengasih perihal perjalananya dari awal hingga akhir. Sedangnya mereka
berdua bercakap – cakap sang Danuwarsih mendekati dan berkata. “Hai putraku,
itu bayi perempuan siapa berangkulan bertangisan ?“ menjawab sang putra , “
sungguh sudari kandung hamba seayag seibu, Rarasantang namanya.” Segera Nyi
Indangayu merangkul adik iparnya.
Gunung Ciangkup
Gunung Ciangkup
Leave a Reply