KABAR

Sabtu, 22 September 2012

BABAD CIREBON


Negeri Pajajaran

                Pertama – tama diceritakan perihal perjalanan hidup pengeran Walangsungsang, hingga datang kepada ceritaan Yang Sinuhun Cirebon.
                Adapun yang dibuka oleh cerita ini adalah menceritakan suatu praja di Pajajaran Ratu Agung di Tanah Sunda yang bernama Sri Sang Ratu Dewata Wisesa, mashur disebut Sri Mahaprabu Siliwangi. Beristri tiga orang. Sang Prabu berputra enam puluh orang. Sang Prabu bersabda, “Hai anakku Walangsungsang, aku lihat engkau bermuram durja, semuanya prihatin tidak sama dengan sesama yang berkumpul duduk. Apa yang jadi kesedihan engkau, bukankah engkau inginkan, beritahu saja mana yang engkau sukai, jangan engkau bersedih hati, tidak baik bagi pribawa semuanya kraton.
                Sang Putra menjawab dengan kidmat sambil menundukan kepala dan mengeluarkan air mata ‘Duhai Gusti, murka dalem yang hamba mohon karena tadi malam hamba mimpi bertemu dengan seorang lelaki yang elok danagung memberi wajengan agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad yang jadi Utusan Yang Widi, namun menyesal sekali belum tuntas hamba sudah terjaga. Sekarang hamba rindu sekali kepada agama Islam, mengingat tidak adanya guru untuk meneruskan pelajaran agama Islam itu.’
                Sang Prabu berkata sambil tersenyum, “Walangsungsang, engkau orang muda jangan terlanjur, engkau kena sihir, kena bius Muhammad yang mengakui anutan, yang jadi duta Widi, sungguh dusta seenaknafsunya, karena sesungguhnya anutan itu adalah Yuang Brahma Wisnu itu sesungguhnya agama Dewa yang mulia. Yang jagat Nata Pangetannya orang setriloka. Sejak dahulu hingga sekarang para leluhur tidak menghendaki dirubah.”
                Walangsungsang menjawab sambil menyembah,” Duhai Gusti mohon ampun dalem, pengertian, kebijaksanaan dan pemaafan dalem yang hamba mohonkan, karena hamba lebih condong/suka sarengat Jeng Nabi Muhammad dan sesungguhnya Ilahi yang wajib disembah itu melainkan Allah yang tiada sekutu sesama yang baharu (makhluk).’’ Sang Prabu murka, karena sang putra tidak patuh, bertentang dengan agamanya. Sang putra dimarahi diusir keluar dari praja Pajajaran. Walangsungsang menjadi suka hati, segera pamit, menghindar dari hadapan sang Prabu, keluar sudah dari istana, terus berjalan masuk  hutan keluar naik gunung menuju kearah timur.
                Ratu Mas Rarasantang sedang rindu kepada kakaknya, ialah Walangsungsang, menangis siang malam selama empat hari akhirnya Rarasantang mimpi bertemu denganseorang lelaki pula yang berupa satria lagi berbau harum memberi pelajaran agama Islam, menyuruh berguru sarengat Jeng Nabi Muhammad dan diramalkan kelak mempunyai suami Ratu Islam dan akan mempunyai anak laki – laki yang punjul. Rarasantang segera terbangu, ingat kepada impiannya lalu keluar dari kraton, menyusul kakaknya, Walangsungsang, terus berjalan.
                Diceritakan didalam Keraton geger busekan/panik, karena sang putri menghilang melolos tanpa bekas. Jeng Ratu Subanglarang sangat olehnya menangis menyungkemi Sang Prabu karena kedua – dua putranya hilang. Sang Prabu kaget sekali, segera memanggil menghadap seluruh para putra sentana, patih, bupati, para widyabala dikumpulkan. Sang Prabu berkata,”Hai patih Argatala, Dupati Siput, sekarangcarilah putraku, Dewi Rarasantang hilang dari kraton dan Walangsungsang disuruh pulang. Sungguh jangan tidak teriring keduanya.”
                Patih Argatala menjawab sandika. Ia segera keluar dari kraton mengumumkan kepada seluruh para wadyabala di Pajajaran geger panik lalu menyebar ke berbagai penjuru. Patih Argatala Dupati Siput mencarinya memasuki hutan menuruti perjalanan khewan. Para putra pada bertapa atau berlaku sebagai dukun, sebagian membangun kerajaa. Para wadyabala bubar kemasing – masing tujuannya, mereka takut tidak berani pulang sebelum mendapat karya.
Selanjutnya........

Gunung Meraapi
http://drackrahmat.blogspot.com/2012/09/gunung-meraapi.html

Leave a Reply