KABAR

Senin, 14 Mei 2012

Tahapan Penulisan Karya Ilmiah


Kedelapan tahapan menulis yang diusulkan Gardner dan Johnson (1997) adalah sebagai berikut.
1.        Pra-menulis (prewriting), yang terdiri dari dua jenis aktivitas, yaitu: (a) tahapan penggalian dan pengayaan ide yang dapat dilakukan melalui perenungan (brainstorming), membaca bahan pustaka yang relevan,  pembuatan peta pikiran; dan (b) penentuan karakteristik pembaca target, tujuan dan bentuk tulisan,
2.        Pembuatan draf awal, atau penuangan ide ke atas kertas. Dalam tahapan ini penulis tidak perlu merisaukan konvensi atau kaidah-kaidah penulisan. Draf awal tidak perlu harus diulis rapi. Yang penting ide-ide yang telah terakumulasi dalam pikiran dapat mengalir dan dituangkan ke lembaran kertas.
3.        Pembacaan ulang, yang dilakukan untuk mengoreksi draf awal dan menuliskannya ke dalam bentuk yang memenuhi kaidah-kaidah penulisan.
4.        Pemeriksaan mitra bestari (share with a peer revisor), yang dilaksanakan dengan meminta seseorang membaca naskah yang sudah ditulis ulang untuk mengidentifikasi kelemahan (struktur, kosa kata, pengutipan, kejelasan ide, tatabahasa) untuk melakukan perbaikan.
5.        Revisi (revise), atau perbaikan ulang terhadap naskah dengan cara menambah atau mengurangi detil pendukung dan hal-hal lain yang teridentifikasi melalui pemeriksaan mitra bestari.
6.        Pengeditan (editing) atau perbaikan teknik penulisan dan ejaan.
7.        Penulisan naskah akhir (final draft), atau penulisan naskah akhir.
8.        Penerbitan (publishing), atau pengiriman naskah ke redaktur jurnal untuk diterbitkan.   
Dilihat dari tahapan proses penulisan di atas, jelaslah bahwa penulisan karya ilmiah melibatkan dua aktivitas tama: berpikir dan menulis. Aktivitas berpikir merupakan aktivitas utama dalam tahapan prewriting, yang didominasi oleh perenungan, membaca, dan meneliti dalam rangka menggali dan mengembangkan ide. Sedangkan aktivitas menulis mendominasi tahapan kedua hingga ketujuh (meskipun kegiatan berpikir juga terlibat dalam seluruh tahapan ini). Aktivitas berpikir yang paling praktis (namun ampuh) dalam rangka menggali dan mengembangkan ide adalah membaca. Semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak pula ide yang dimilikinya, dan semakin mampu pula dia memilah ide yang perlu dan relevan, atau ide yang tidak perlu, usang atau kadaluwarsa. Selain itu, membaca juga memberikan dua keuntungan lain. Pertama, membaca memungkinkan seseorang memahami selera pembaca. Pemahaman ini akan memampukannya mengarahkan tulisannya sesuai selera dan keinginan pembaca. Kedua, dengan banyak membaca, seseorang dapat belajar mengenai bagaimana seorang penulis menyampaikan dan mengorganisasikan ide atau gagasan, menyusun kalimat yang efektif, dan sebagainya. Oleh sebab itu, untuk dapat menjadi seorang penulis yang baik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbanyak membaca.

Leave a Reply