Tahapan Penulisan Karya Ilmiah
Kedelapan tahapan menulis yang diusulkan Gardner dan Johnson
(1997) adalah sebagai berikut.
1.
Pra-menulis (prewriting), yang terdiri dari
dua jenis aktivitas, yaitu: (a) tahapan penggalian dan pengayaan ide yang dapat
dilakukan melalui perenungan (brainstorming), membaca bahan pustaka
yang relevan, pembuatan peta pikiran; dan (b) penentuan karakteristik
pembaca target, tujuan dan bentuk tulisan,
2. Pembuatan draf awal, atau penuangan ide ke atas kertas. Dalam
tahapan ini penulis tidak perlu merisaukan konvensi atau kaidah-kaidah
penulisan. Draf awal tidak perlu harus diulis rapi. Yang penting ide-ide yang
telah terakumulasi dalam pikiran dapat mengalir dan dituangkan ke lembaran kertas.
3. Pembacaan ulang, yang dilakukan untuk mengoreksi draf awal dan
menuliskannya ke dalam bentuk yang memenuhi kaidah-kaidah penulisan.
4. Pemeriksaan mitra bestari (share with a peer revisor), yang
dilaksanakan dengan meminta seseorang membaca naskah yang sudah ditulis ulang
untuk mengidentifikasi kelemahan (struktur, kosa kata, pengutipan, kejelasan
ide, tatabahasa) untuk melakukan perbaikan.
5. Revisi (revise), atau perbaikan ulang terhadap naskah
dengan cara menambah atau mengurangi detil pendukung dan hal-hal lain yang
teridentifikasi melalui pemeriksaan mitra bestari.
6. Pengeditan (editing) atau perbaikan teknik penulisan dan
ejaan.
7. Penulisan naskah akhir (final draft), atau penulisan naskah
akhir.
8. Penerbitan (publishing), atau pengiriman naskah ke redaktur
jurnal untuk diterbitkan.
Dilihat dari tahapan proses penulisan di
atas, jelaslah bahwa penulisan karya ilmiah melibatkan dua aktivitas tama:
berpikir dan menulis. Aktivitas berpikir merupakan aktivitas utama dalam
tahapan prewriting, yang didominasi oleh perenungan, membaca, dan
meneliti dalam rangka menggali dan mengembangkan ide. Sedangkan aktivitas
menulis mendominasi tahapan kedua hingga ketujuh (meskipun kegiatan berpikir
juga terlibat dalam seluruh tahapan ini). Aktivitas berpikir yang paling
praktis (namun ampuh) dalam rangka menggali dan mengembangkan ide adalah
membaca. Semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak pula ide yang
dimilikinya, dan semakin mampu pula dia memilah ide yang perlu dan relevan,
atau ide yang tidak perlu, usang atau kadaluwarsa. Selain itu, membaca juga
memberikan dua keuntungan lain. Pertama, membaca memungkinkan seseorang
memahami selera pembaca. Pemahaman ini akan memampukannya mengarahkan tulisannya
sesuai selera dan keinginan pembaca. Kedua, dengan banyak membaca, seseorang
dapat belajar mengenai bagaimana seorang penulis menyampaikan dan
mengorganisasikan ide atau gagasan, menyusun kalimat yang efektif, dan
sebagainya. Oleh sebab itu, untuk dapat menjadi seorang penulis yang baik,
langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbanyak membaca.
Leave a Reply